MEONG PALO KARELLAE
Adalah salah satu episode dari epos La Galigo, suatu karya
sastra yang bersifat mitologis, tetapi pada hakekatnya nilai-nilai yang
terkandung di dalamnya adalah sesuatu positif dan universal.
Meong Palo Karellae (MPK) yang artinya kucing loreng ke merah-merahan ( Bone,
Soppeng, Wajo, Sidenreng Rappang), di Luwu biasa disebut Meong Palo Bolonge
(MPB) yang artinya kucing loreng kehitam-hitaman, secara prinsipil versinya
tidak berbeda hanya menyangkut istilah dan cara pandang seseorang terhadap
Meong Paloe, apabila kucing tersebut dilihat dari depan maka warna yang dominan
adalah hitam keloreng-lorengan, sebaliknya apabila dipandang dari samping maka
kucing itu kelihatan berwarna merah keloreng-lorengan. Sehingga sampai saat ini
di kalangan masyarakat Bugis bahwa kucing yang mempunyai warna merah atau hitam
keloreng-lorengan dianggap mempunyai aspek kedewataan, karena itu ia harus
diperlakukan sebagai makhluk yang sakral dan keramat.
Ada beberapa
upacara yang mengiringi pembacaan teks (Meong Palo Karellae), antara lain :
1) Upacara Mappalili,
2) Upacara Maddoja Bine
3) Upacara Mappaddendang.
Upacara Mappalili : adalah upacara membangun Arajang (Alat-alat kerajaan yang
dianggap keramat dan sakral) menjelang musim panen, dalam upacara ini setelah
usai membacakan doa, Bissu biasanya menunjukkan kesaktiannya dengan
berkali-kali menusukkan senjata tajam ketubuhnya tanpa terluka (Maggiri),
dengan diiringi tabuhan gendang dan musik tradisional Bugis yang seperti
menghadirkan suasana magis. Apa yang diperagakan para Bissu dalam tarian
Mabbissu itu, berupa kekebalan tubuh terhadap senjata tajam, sebetulnya
manifestasi dua kekuatan yang menyatu dalam diri Bissu : Kekuatan kelembutan,
dan kekuatan keperkasaan (Jalal dan Jamal) (Kombie,A.S,2003:200-201).
Bissu adalah sekelompok pendeta agama Bugis kuno pra-Islam. Ketuanya digelari
Puang Matowa atau Puang Towa. Bissu dalam naskah I La Galigo adalah perantara
antara manusia dan dewata sekaligus sebagai penasehat para raja dan keluarganya
dan menjaga Arajang (benda-benda pusaka kerajaan). Mulan turunnya Bissu
dipercaya sebagai pendamping Batara Guru ketika turun ke bumi (dunia tengah).
Bissu secara fisik adalah campuran antara lelaki dan perempuan yang secara
filosofis dimaknai sebagai penggabungan kekuatan dan kelembutan. Sampai saat
ini Bissu masih berperan banyak dalam ritual-ritual Bugis, salah satunya
upacara Mappalili (Halilintar Latief dalam Kombie,A.S,2003:199-200).
Maddoja Bine : diadakan sesudah 20 malam usianya upacara Mappalili, diadakan
lima hari lima malam. Tiap malam teks MPK dibacakan oleh seorang Bissu atau
orang-orang tua yang dijadikan sesepuh di hadapan seonggokan bibit padi yang
akan ditanam di tengah-tengah rumah.
Mappaddendang : Diadakan sesudah panen, sebagai tanda kesyukuran atas berhasilnya
padi. Upacara ini biasanya diadakan di muka istana kerajaan dengan
mempertunjukkan berbagai macam kesenian, sambil menyaksikan para Bissu
mempertunjukkan tarian-tarian ritual yang kadang disertai dengan atraksi yang
cukup mendebarkan (Maggiri).
Saat ini upacara tersebut sudah jarang dilakukan kecuali di Kecamatan Segeri
Kabupaten Pangkep, dan di Kabupaten Barru, Kemudian dilestarikan kembali di
Kabupaten Bone. MPK (Meong Palo Karellae) mengandung aspek sosial budaya
masyarakat Bugis.
Seperti yang dilansir di Harian Fajar, Tanggal 23 Maret 2008, kolom 3 baris 46,
bahwa Otonomi harus mampu menjaga karakter budaya dan kekhasan daerah. Kalau
tidak, maka itu bukan otonomi. “Bahasa Lontara, dan kekhasan daerah lainnya
harus bisa dijaga, demikian pula Meong Palo Karellae harus dijaga karena
mengandung nilai-nilai kemanusiaan.
“RINGKASAN CERITERA MEONG PALO KARELLAE”
Sebuah mitos mengenai We Oddangriu puteri Batara Guru yang setelah
meninggalnya, menjelma menjadi Dewi Padi (Sangiangserri), Meong Palo Karellae
adalah penjelmaan dari ibu susuan (Inannyumparenna) We Oddangriu menceriterakan
pengembaraan Sangiangserri dan pengikutnya ke beberapa negeri Bugis untuk
mencari manusia yang berbudi baik dan berlaku sopan santun.
Batara Guru adalah anak lelaki tertua dari mahadewa langit To Palanroe (sang
pencipta), juga dinamai To Patotoe (sang pengatur takdir manusia), dari Datu
Palinge (wanita sang pencipta) turun ke bumi atas keinginan dari semua Raja
laki-laki dan Raja perempuan di langit dan dibawah bumi, sesudah para keluarga
besar mahadewa di langit mengadakan rapat, maka diputuskan untuk mengirim
Batara Guru guna menciptakan tulang bumi, yang ketika itu masih kacau balau
sebagai tempat yang dapat didiami oleh manusia.
Oleh karena Batara Guru tidak dapat tinggal dibumi, selanjutnya ditentukan
bahwa kakak lelaki kembar ibunya, mahadewa dari dunia bawah yang bernama Guru
ri Sa’lang, dan istrinya dari saudari kembar Patotoe yang bernama Sinau Toja
(yang dinaungi oleh air), anak perempuan mereka Wenyili Timo Tompoe (To Ompoe’)
ribusa empong (yaitu yang muncul dari buih gelombang) akan dikirim ke bumi,
disamping kelima puteri-puterinya lainnya dari bawah bumi untuk dikawinkan
dengan Batara Guru sebagai istri pertama dan utama.
Batara Guru sesudah itu turun ke bumi melalui pelangi di dalam batang bambu
dengan pengiringnya. Sedang Wenyili Timo dengan rombongannya muncul dari
buih-buih ombak laut, dan disambut dengan tangan terbuka oleh Batara Guru.
Tempat pertemuan ini adalah Luwu yang pada waktu itu dinamai Wara’. Dari sinilah
peradaban menyebar selanjutnya keseluruh Sulawesi, dan bahkan keluar negeri,
(Morris,2007:5-7).
Pada suatu waktu Batara Guru termenung dan melepaskan pandangan ke arah
matahari terbit. Tiba-tiba dilihatnya di sebelah timur datang sebuah sinar
menerangi lautan, laksana bara api memercik-mercik berkilau-kilau di permukaan
laut terhampar. Berkatalah Manurunnge (Batara Guru) kepada dayang-dayangnya : ”
Apakah itu (hai) We Senriu, (hai) We Lele-Ellung, (hai) Apputalaga, bagaikan
api menyala-nyala di atas samudera itu?” Baru saja lepas pertanyaan Manurunnge
itu, tiba-tiba muncullah We Nyili’Timo di atas air (Busa empong), di elu-elukan
oleh cahaya cemerlang laut terhampar. Dengan penuh rasa gembira, Manurunnge pun
melihat kedatangan sepupunya, teroleng-oleng di atas lautan, maka bersabdalah
Batara Guru “Berangkatlah engkau semua putera-putera dewata, menerangi,
menyonsong kedatangan Datu junjunganmu!” Maka sekalian anak Datu sama melompat
berenang, menyonsong Datu junjungannya. Seolah-olah madu tergenang dalam hati
Batara Guru memandang sepupunya, menyuruh angkat naik ke pantai, dan mengundang
masuk istana. Pada saat itu, lupalah Batara Guru kehidupan di Botillangi (dunia
atas) setelah bergaul dengan sepupunya sebagai suami-isteri. Mereka senantiasa
duduk bersanding, menikmati kipasan angin dari kipas emas kemilau. Sesudah tiga
bulan lamanya, We Nyili’timo berdiam diatas bumi, ia pun mengidamlah. Tak enak perasaannya, tidak ada barang
sesuatu yang dapat diterima oleh perutnya. Pada suatu hari yang cerah, kedua
suami-isteri melepaskan pandangan melewati jendela istana. Wenyili’timo pun
memandang burung-burung beterbangan. Di antaranya burung-burung itu terlihat
seekor yang menerbangkan buah nangka di paruhnya, ada yang menerbangkan pepaya
masak dan pisang. We Nyili’timo’ pun menyeru, “memanggil burung-burung itu dan
berkata :”Bawaan burung-burung itu tak akan memabokkan, karenanya ingin saya
memakannya”.
Tepat ketika matahari bersemayam di tengah-tengah langit, bayang-bayang tak
condong ke barat ataupun ke timur, maka diulurkanlah turun Puang ri Lae-lae
yang tinggal dilereng gunung Latimojong, diulur juga I We Ampang Langi’, yang
akan menjadi dukun beranak di istana. Sesudah tujuh bulan kandungan We
Nyili’timo’, bersalinlah ia seorang puteri, diberinya nama We Oddang-Riu’.
Tetapi tujuh hari saja usia puteri itu, terseranglah ia penyakit perut yang
menyebabkan kematiannya. Maka dicarinya hutan untuk tempat menyimpannya, tempat
yang akan dijadikan kuburannya. Setelah tiga malam meninggalnya We Oddangriu’,
datanglah kerinduan dalam hati Manurunnge kepada almarhumah puterinya. Ia pun
keluar menuju kuburan puteri tercinta. Tetapi apa yang dijumpainya hanyalah
padi menguning. Itulah sangiangserri. Ada yang putih, ada yang hitam, ada yang
merah memenuhi padang, meliputi daratan, memenuhi parit-parit. Maka dibawanya
sangiangserri itu pulang ke istananya.
Maka berkatalah To PalanroE (Lapatotoe) di Botillangi’ kepada puteranya :” Hai
anakku itulah puterimu yang menjelma menjadi sangiangserri”. Tetapi janganlah
engkau memakannya dulu. Nantilah setelah lewat beberapa tahun, setelah engkau
telah melupakannya, barulah engkau memakannya. Sebelumnya makanlah jagung”.
(Mattulada;1985:395-396).
Tatkala Sangiangserri (Dewi Padi) merasa tidak lagi dihargai oleh orang-orang
Luwu, ia tidak lagi di tempatkan pada singgasananya, penduduk tidak lagi
mematuhi petuah, pantangan, dan larangan-larangannya, ia dimakan tikus pada
malam hari, di totok ayam pada siang hari, karena hanya Meong Palo Karellae
yang mengawalnya justru ia disiksa oleh manusia, maka iapun sepakat dengan MPK
dan pengawal-pengawalnya untuk pergi mengembara (Sompe).
Dalam pengembaraan itu, mula-mula sangiangserri dan rombongan tiba di Enrekang,
lalu terdampar di Maiwa (Duri), kemudian berturut-turut ke Soppeng, Langkemme,
terus ke Kessi, Watu, Lisu, sampai akhirnya tiba di Barru. Perjalanan dari
Enrekang sampai ke Lisu, penuh dengan berbagai dengan derita dan tantangan,
sikap dan perlakuan orang-orang yang tidak senonoh, kucing (MPK) disiksanya
habis-habisan, ia dan rombongan kelaparan, kehausan, belum lagi kepanasan yang
menimpanya pada siang hari, dan kedinginan pada malam hari.
Tetapi ketika ia di Barru, ia menemukan sesuatu yang lain dari tempat-tempat
yang telah dilaluinya. Sangiangserri (Sanghyangsri) dan rombongan di sambut
dengan penuh kehangatan, dijamu, diistirahatkan di Rakkeyang (loteng), ditambah
dengan sifat keramah-tamahan penduduk, keadilan dan kebijaksanaan penguasa,
membuat Sangiangserri dan rombongan betah.
Sayang sekali Sangiangserri sudah terlalu letih, lelah, dan sedih mengingat
suka duka perjalanannya, dan sifat-sifat anak manusia yang ditemuinya, sehingga
ia bertekad untuk meninggalkan bumi, untuk kemudian kembali ke langit menemui
kedua orang tuanya yang bertahta di Boting Langi (Kerajaan Langit).
Tetapi sesampainya di langit, Sangiangserri beserta rombongan tidak
diperkenangkan oleh kedua orang tuanya untuk menetap dilangit, sebab memang
nasib dan kejadiaannya telah ditakdirkan oleh Tuhan untuk memberi kehidupan
kepada orang-orang bumi (Peritiwi). Karena itulah akhirnya mereka terpaksa
kembali ke bumi, dan Barru lah yang dituju sebagai tempat menetap mereka.
Tujuh hari tujuh malam sesudah Sangiangserri tiba di Barru, barulah ia
memberikan petunjuk-petunjuk, petuah-petuah, nasehat-nasehat, serta
pantangan-pantangan, khususnya yang berhubungan dengan pertanian, dan
norma-norma masyarakat Bugis, baik menyangkut lapangan hidup pertanian, maupun
sikap dan perilaku yang patut (Sitinaja) dimiliki oleh masyarakat, agar
masyarakat tetap makmur, tenteram, dan sejahtera.
Hal ini dimungkinkan karena dengan demikian Sangiangserri akan menetap di
Barru, dan itu pertanda sebagai kemakmuran dan kesejahteraan. (dapat dibuktikan
bahwa Arung Barru (Raja Barru) adalah keturunan Raja Bone, Mappajunge ri Luwu
dan Sombae ri Gowa).
Inilah yang menceriterakan kucing loreng kehitam-hitaman atau kucing loreng
kemerah-merahan, juga disebut Cokie, Meong Paloe dan Posa’e.
Dia (MPK) berkata :” Ketika aku bermukim di Tempe, menetapku di Wage, meski
belanak saya makan, meski bete kubawa berlari, tak pernah aku di usik, sabar
dan pemurah, tuanku yang punya rumah.
Kemudian aku dihina Punna Langi (Penguasa Langit), tak di senangi oleh Dewata,
diatas di Ruangllette, dibawah di Peretiwi (Dunia Bawah). Aku lalu terbuang di
Enrekang, terdampar di Maiwa, tak teratur makananku. Ketika tuan rumah pulang
dari pasar, ia membawa ikan ceppe (semacam ikan mujair), aku mendekat dan
merampas, dekat yang paling besar. Dipukulku dengan punggung parang, oleh yang
empunya ikan ceppe, bagaikan pecah kepalaku, seperti keluar biji mataku,
berkunang-kunanglah penglihatanku, bagaikan keluar isi otakku, melayang
semangatku, tersingkap jiwa ragaku, padam pelita di dalam, perasaan hatiku,
pupuslah sudah kekuatanku, bergetar-getar (Seluruh) tubuhku. Sembari berlari
mendengus, dibawah dapur, bagaikan pupus di dalam, perasaan hatiku,
berdenyut-denyut sudah, seluruh anggota tubuhku, maka tersalah semuanya,
urat-urat kecilku, bergetar-getar pula seluruhnya, semua urat-urat besarku.
Kemudian kembali dilemparnya aku dengan sakkaleng, oleh tuanku yang punya
rumah. Akupun berlari diatas papan dapur, ia pun melempar lagi aku dengan
pabberung, oleh tuanku yang memasak. Kulari mendengus, di bawah dapur,
ditusuknya aku dengan puntung kayu bakar, oleh tuanku yang memasak, kemudian
dilanjutkan dengan menusukku dengan pabberung, aku pun lalu terjatuh ke tanah.
Kemudian aku di patiti (memanggil anjing dengan menggonggong), tuanku yang
punya rumah, maka gegerlah semua orang.
Pada berdatangan orang yang menumbuk padi mengusirku dengan alu, memukulkan dengan
alat pemukulnya, melemparkan nyirunya (Pattapi), berserakanlah padinya,
tertumpah berasnya, menumpuk sambil tersungut-sungut, berhamburanlah sebelah
menyebelah, tanpa ia tunduk memungutnya. Ayam pun kemudian membawa lari,
sebutir setangkai. Tak henti-hentinya mengomel, tuanku yang menumbuk, ada juga
yang mengusirku dengan siak (mengusir kucing dengan kata sih) gegerlah lagi
semua orang, perempuan laki-laki, akupun berlari memanjat, pada tiang yang
sampai rumah, terus-terus aku naik, hingga sampai di rumah.
Kemudian aku masuk di bawah tenun, ditusuknya aku dengan alat tenun, oleh
tuanku yang bertenun. Akupun berlari terengah-engah, di bagian rakkeyang, tak
henti-hentinya memburu, tuanku yang punya ikan ceppe. Langsung aku naik, di
rakkeyang, disusulnya aku yang punya rumah. Lalu aku berlari berlindung,
dibawah usoreng (tempat tumpukan padi di rakkeyang), menyelundupkan kepalakaku,
mengunci diriku, dibawahnya We Tune (nama lain dari Datu Sangiangserri),
ratunya sangiangserri tak henti-hentinya marah, isteri yang empunya rumah,
laksana kabut yang mengepul, raut mukanya dipandang, tak henti-hentinya
mengumpat, laki-laki perempuan, seluruh isi rumah.
Kebetulan sekali, nyenyak tidurnya, Datu Sangiangserri , ia diserempet oleh
ujung cambuk, ia pun berpaling terkejut, bangkit dengan awut-awutan, Datu
Sangiangserri. Alangkah ibanya jiwanya, pilu perasaannya, melayang semangatnya,
sedih di dalam, perasaan hatinya, Datu Sangiangserri.
Sembari menangis We Tune’ berkata : sang keturunan pajung (gelar bangsawan
tertinggi di Luwu) :” Bangunlah sekalian ! padi ketan padi biasa, semua padi
yang setia, tak usah tinggal menderita, di tempat usoreng ini. Bangkitlah kita
pergi mencari sifat-sifat yang baik, aku tak mau lagi tinggal disini, di totok
oleh ayam, dimakan oleh tikus, sebab hanya kucing yang diharapkan untuk menjaga
kita, berjaga-jaga tanpa tidur, malam dan siang, menangkap tikus, agar tidak
gugur tangkaiku, maupun pengikatku, justru dialah (MPK), yang sangat dibenci,
oleh isi rumah”. Belum lagi habis pembicaraan, Datu Sangiangserri, maka pada
bangkitlah, seluruh isi rakkeyang, sama duduk melingkar mengelilingi tumpukan
padi, besar kecil, beras ketan beras biasa, semua padi yang banyak, semua padi
yang setia. Belum lagi hancur daun sirihnya, belum sempat berkedip mata, maka
sama bergerak, semua padi yang banyak, diarak bergerak, di muka We Tune, Datu
Sangiangserri.
Berkata sembari menangis We Tune :” Bagaimana tanggapanmu, menurut pikiranmu,
perihal dibencinya sang kucing, disiksa siang malam. Sebab menurut pendapatku,
di dalam sanubariku. Lebih baik kita pergi membuang diri di kampung yang jauh,
mencari budi pekerti yang baik. Siapa tahu kita mendapatkan orang sabar dan
berpasrah diri, sesuai keinginan kita, tahu menghargai Wisesa (Sangiangserri),
menaikkan padi, tidak cemburu hati terhadap tetangganya, sabar berpasrah diri,
terhadap sesama manusia, laki-laki yang jujur (lempu), wanita yang dermawan
(malabo), mengantar orang yang bepergian (marola), menjemput orang yang datang
(madduppa), memberikan makan orang yang lapar, memberi minum orang yang haus,
menyarungi (memberi sarung) kepada orang yang telanjang, menerima orang yang
susah, menampung orang yang terdampar, menerima orang yang dibenci, menerima
semua orang, yang diperlakukan sewenang-wenang, oleh sesama manusia” inilah
dinamakan malabo (dermawan).
Serentak sama mengiya, semua padi yang banyak, juga gandum dan jagung, serta
semua teman-temannya.
Belum lagi hancur daun sirih, belum sempat mata berkedip, maka sama
berangkatlah, semua padi yang banyak, mengikuti ia turun, di arak dengan
tenang, Datu Sangiangserri.
Kemudia ia sampai berdesakan, dirumah Matoa, Sulewatang Maiwa, yang diikuti
menurun, oleh Datu Meong Paloe, memenuhi sebagian rumah. Belum lagi hilang
letihnya, duduknya dirumah, Datu Sangiangserri, kebetulan sekali, sedang makan
orang dirumah, menyendok nasinya secara berhamburan, menyuap tanpa memasukkan
di mulut sehingga nasi berhamburan di lantai, tanpa tunduk memungut, ibu yang
melahirkannya, dan tidak mau di tegur, terhadap teman-temannya.
Kemudian ia (penghuni rumah) berpaling berontak, menangis meronta-ronta,
merajuk tak henti-hentinya, sembari menggaruk-garuk kepalanya, dan menarik
rambutnya, diiringi dengan keringat yang bercucuran. Melemparkan nasinya,
berhamburanlah ia, ke kanan dan ke kiri. Marah nian bapaknya, juga ibu yang
melahirkannya, di sumpah-sumpahinya anaknya, juga teman-temannya, dan berkelahi
dengan suaminya.
Kemudian ia berpaling sembari berkata, Datu Sangiangserri, terhadap
teman-temannya :”Saya tak ingin bermalam, tidak ditakdirkan We Tune, Tuhan
Pabare-baree, di atas di Boting Langi, di bawah di Peretiwi, duduk bertahta di
Maiwa, memberi kehidupan orang bumi. Tak kusenangi perbuatannya, juga
sifat-sifatnya, matoa petani tersebut, Sulewatannya Maiwa. Turutlah kalian!
Kita pergi, mencari sifat-sifat yang terpuji, agar kita menemukan, sesuai
kehendak hati kita perempuan yang rapih, lelaki yang berpasrah diri, lapang
dada di dalam sanubarinya (baik hati), tidak culas, berpasrah diri terhadap
sesama manusia, tahu menjemput wisesa (padi), menaikkan Sangiangserri di
rakkeyang.
Serentak mereka berangkat, semua padi yang banyak mengikuti menurun, Datu
Sangiangserri, dipikul oleh air, bertelekan tanah, menyeimbangkan (badan) pada
angin, berjalan beriring-iringan, Datu Sangiangserri.
Belum hancur daun sirih, belum lagi mata berkedip, maka ia pun telah
membelakangi Maiwa, dan didepannya adalah Soppeng, di pinggirnya terdapat
Pattojo, dekat pula La Injong, yang mengarah ke Bakke.
Keesokan harinya, ketika langit cerah, matahari bersinar di balik pegunungan,
matahari yang bersinar. Fajar pun telah menyinsing, maka berpalinglah berkata,
Datu Sangiangserri, kepada teman-temannya : “Sebaiknya yang mana kita harus
tuju, apakah yang disebelah utara, jalan yang menuju Bakke, ataukah yang
disebelah barat, jalan yang menuju Tanete”, maka serentak mengiya, semua
teman-temannya dan berkata:”Anginlah engkau dan aku hanya daun kering (Angikko
ku raukkaju), kemana tuan bertiup, ke situlah hamba terbawa”.
Kemudian singgah beristirahat sejenak, Datu Sangiangserri di perantaraan
kampung, menyebarkan baunya, harumnya menusuk hidung, di dapatinya, Datu
Tiuseng (bibit), gandum dan jagung, dan jelai yang banyak, dalam keadaan sedih
pada bertangis-tangisan, di luar kampung, pada bersiap-siap untuk membuang
diri.
Buntulah perasaannya, Datu Sangiangserri, karena tidak ditemuinya satu pun,
kampung yang bakal ditempatinya. Kemudian ia berpaling dan berkata Datu
Tiuseng, terhadap teman-temannya :”Perbaiki gerangan dirimu, seperti aku
melihat, tuan kita yang disembah, yaitu Tuan kita We Tune Datu Sangiangserri,
mari kita ikuti dari pada tinggal berdesakan, di perantaraan kampung, dimakan
tikus, di totok ayam, dan dimakan hama. Belum lagi habis ucapannya, Datu
Tiuseng, maka tibalah ia berdesakan, keturunan mappajung, keturunan dari Boting
Langi, keturunan dari Peritiwi. Kemudian berpaling dan berkata, Datu
Sangiangserri : Dengarkan baik-baik kataku, Datu Barelle (jagung), Datu Tiuseng
(bibit), dan semua jelai yang banyak, aku bertanya baik-baik, apa gerangan yang
menyebabkan engkau duduk disitu, di luar perkampungan, serentak mereka sujud
sembari berkata, Datu Barelle, Datu Batae, Datu Riusenge, dan semua jelai yang
banyak :” Sudah terlalu sakit aku Tuanku, tidak dibawa ke rumah, orang di
Langkemme. Bawa aku Tuan, dan kita memilih tempat menetap, kampung yang kau
tetapkan”. Ia pun berkata, Datu Sangiangserri :”Kendatipun demikian ucapanmu,
biarlah singgah sejenak, di kampung Langkemme, menenangkan perasaan. Siapa tahu
kita menemukan, sesuai kata hati kita, sabar dan berpasrah diri, lelaki yang
jujur, perempuan yang apik, dan berlapang dada, terhadap sesama manusia, tidak
berbuat culas, tidak cemburu hati, terhadap tetangganya, sabar dan pasrah,
terhadap anak cucunya, sabar dan tekun, tidak cemburu hati, terhadap
orang-orang sekampungnya”.
Ia pun menangis dan berkata, Datu Sangiangseri, terhadap teman-temannya :”Tidak
jadilah saya menetap, di Kampung Langkemme, saya sangat pedih (melihat), marah
tak tentunya, berkata-kata seenaknya, Matoa petani, yang berkuasa di Langkemme,
di sumpah-sumpahinya anaknya, disinggung perasaan teman-temannya, disakitinya
sekampungnya, orang yang cemburu hati, terhadap tetangganya. Mereka mengundang
bala yang dahsyat, oleh sifat yang tidak terpuji”.
Ia pun mengulang lagi perkataannya, Datu Sangiangserri : ” Mari kita berangkat,
mencari sifat-sifat yang terpuji, siapa tahu kita menemukan, sesuai kata hati
kita. Sabar penuh pasrah, terhadap sesama manusia, laki-laki yang pemurah,
perempuan yang apik, berpasrah diri, terhadap sesama manusia, diberinya kuru’
sumange’, keluarga dan sekampungnya, tidak culas, tahu menjemput wisesa (padi),
menaikkan ke rumah Sangiangserri. Serentak mereka sama berangkat, turun
kembali, Datunna Sangiangserri, diusung oleh air, bertelekan pada tanah,
menyeimbangkan tubuh pada angin, melewati perantaraan kampung, ketika mentari
di rembang senja, bertemulah dengan gelap, pelita sang Datu pun telah menyala,
ketika ia telah membelakangi Langkemme.
Belum lagi habis daun sirih, belum lagi mata berkedip ia pun telah berada di
Ambang (kampung) Kessi, ia pun berpaling sambil berkata, Datu Sangiangserri :
“Marilah kita singgah sejenak, di kampungnya orang Kessi, siapa tahu kita
menemukan, sesuatu kata hati kita, itulah kemudian yang kita tempati, menetap
di dalam, tenggorokan manusia”.
Merekapun serentak mengiya, semua padi yang banyak, gandum dan jagung, dan
semua jelai yang banyak. Belum lagi habis daun sirih, belum lagi berkedip mata,
merekapun telah sampai di Kessi, langsung mereka naik, di istana kerajaannya,
Matoa petani, yang menguasai Kessi, memenuhi sebagian rumah, mereka duduk,
sembari bersandar dengan santai, pada bagian tiang rumah.
Kebetulan sekali, sedang berkelahi dengan suaminya, orang di dalam rumah. Dan
ketika senja hari, mereka berlomba-lomba memasak, pada menaikkan pancinya,
menjejerkan belanganya, sembari duduk berdesak-desakan di muka dapur. Ada yang
sedang memegang sajinya, ada yang mengayu akan sendoknya, sementara yang lain
mengaduk peniupnya. Di tengah-tengah dapur, dan memperebutkan puntung kayu
bakar. Maka menangislah sambil berkata, Datu Sangiangserri :”Dengarkanlah
sekalian, semua padi yang banyak, di Kampung Lakessi.
Tak kusukai perbuatannya, tak kusenangi sifatnya, wanita tercintanya, Matoa
petani, yang berkuasa di Lakessi. Mari kita turun ! pergi mencari sifat yang
baik, agar kita menemukan, sesuai dengan bicara (kata hati) kita, sesuai dengan
jalan pikiran kita, bicara yang tidak bertentangan, wanita yang apik, laki-laki
yang patuh, terhadap sesama manusia, tahu menjemput wisesa, menaikkan
Sangiangserri, tidak cemburu hati, terhadap tetangganya, dan menerima orang
yang kesusahan”.
Serentak mereka turun, diusung oleh air, bertelekan pada tanah, menyeimbangkan
tubuh pada angin, dan akhirnya beristirahat sejenak di perantaraan kampung,
sebab sudah terlalu lelah, Datu Sangiangserri, berjalan jauh. Mereka kemudian
naik di rumah sebelah timur, tak mendengar suara apapun, dan tak melihat
seorangpun, duduk menghidupkan pelita ketika gelap mulai menjelang. Mereka
tidur bersilang-silangan, laki-laki perempuan. Serentak dia naik, Datu Sangiangserri,
langsung meraba, tempayan yang didudukkan, tak ditemuinya setitik airpun,
apalagi yang namanya seteguk, ke Datu Tiuseng, gandum dan jagung, semuanya
jelai yang banyak, Datu Meong Paloe. Kemudian mereka berkata :”Kur jiwa
semangatmu (Kuru’ sumange’mu), keturunan La Patotoe, keturunan Datu Mangkau’,
anginlah engkau ku daun kayu yang kering, di atas engkau bertiup, datu engkau
terdampar, kuikuti terbawa, terbawa-bawa sampai, di dunia pammasareng (alam
arwah).
Belum lagi lepas ucapannya, serentak mereka telah tiba berdesakan, di rumah
peristirahatannya, Matoa Watu, memenuhi rumah sebagian langsung ia naik, Datu
Meong Paloe, menghempaskan diri berbaring, diatas onggokan padi, seketika ia
langsung tertidur pulas. Belum lagi kering keringatnya, Datu Sangiangserri,
ketika lewat tengah hari, isteri yang empunya rumah, tanpa mencuci kaki,
langsung naik ke rakkeyang, mengambil padi seikat. Bertepatan ketika itu,
berbaringnya sang kucing, di puncak onggokan padi tersebut, mengumpulkan dengan
baik, desahan nafasnya, sebab sudah terlalu capek, berjalan sepanjang jalan,
rasa laparpun telah memuncak, lapar dan dahaga, perasaan jiwanya, Datu Meong
Paloe. Bergetar-getar seluruh tubuhnya, bergerak-gerak dagingnya,
berkunang-kunang sudah penglihatanya. Ia kemudian diusir, tapi sang kucing
tetap saja enggan bergeser, Datu Meong Paloe, spontan ia naik, menyepaknya
dengan ujung kaki, maka terlemparlah sang kucing, terdampar persis di depannya,
Datu Sangiangserri.
Ia pun bangkit awut-awutan, sembari berpaling dan terkejut, Datu Sangiangserri.
Ia pun berangkat dengan mengamuk isteri yang empunya rumah, diangkatnya
padinya, dengan marah dan berjalan turun, menuju ke lesung, tanpa
mengistirahatkan sebentar, di tengah rumah. Ia pun menumbuk dengan mulut
komat-kamit, berhamburan sebelah-menyebelah, tanpa tunduk memungutnya, maka
ayampun membawanya lari, sebutir dan setangkai.
Ia pun menangis sembari berkata, Datu Sangiangserri, terhadap teman-temannya :
“Ayo kita turun dan berangkat, hatiku sangat pedih, melihat perbuatan takabbur,
dari yang empunya rumah.
Maka serentak mereka berangkat, Datu Sangiangserri, diarak dengan tenang,
diusung oleh air, bertelekan pada tanah, maka menipislah sudah, seluruh isi
rakkeyang, penguasa di Watu.
Kemudian ia pun menangis dan berkata, Datu Sangiangserri “Ayo kita turun,
menelusuri takdir kita, yang telah ditetapkan, To Pabbare-baree (yang
memelihara), mencari sifat-sifat yang terpuji, siapa tahu kita menemukan,
wanita yang apik, laki-laki yang sabar, berpasrah hati, terhadap sesama
manusia, tahu menjemput wisesa, menaikkan Sangiangserri.
Merekapun telah sampai d Lisu, menangis dan berkata We Datu :”Ayo kita singgah
sejenak, di istana kerajaannya, Matoa petani “Serentak mereka mengiya, semua
padi yang banyak, semua teman-temannya. Bertepatan ketika matahari di rembang
senja, bertemunya gelap, ketika mereka tiba berdesakan, memenuhi rumah
sepotong, bagaikan angin ribut yang datang, suaranya kedengaran, tanpa
kelihatan wujudnya, berhamburan menusuk hidung, harumnya We Tune, memabukkan
harumnya. Bertepatan sekali, sedang makan minum orang Lisu, berjaga menghadapi
bibit padinya, begitu sulit nasinya (makan), menggerutu, di dalam jiwanya,
isteri petani, sumpah serapahnya tak henti-henti, kata di dalam hatinya
:”Apakah berhasil kelak, ataukah tidak, padi yang kupersiapkan, sudah terlalu
banyak, belanjaku yang tak habis-habisnya, perbuatan yang tak karuan, Matoa
petani, yang berkuasa di Lisu ini. Dan disini semuanya berkumpul, keluarga dan
sekampungnya, begitu sulit nasinya, itulah yang membuat aku malu, berjalan di
saksikan oleh orang”.
Tak henti-hentinya ia bersumpah, isteri yang sama keturunannya, Matoa Lisu,
kebetulan sekali suaranya di dengar, oleh Datu Sangangserri, ketika menyerakkan
baunya, bau-baunya We Tune’, memabukkan baunya.
Sembah sujud sembari berkata, Matoa petani itu :”Maafkan aku oh marupe ingatlah
tuan, dan maafkanlah hambamu, lalu kemudian ia berpaling, kepada isterinya yang
lalai; “ingatlah marupe musuhlah nafsumu, batasilah murkamu” Dapatkah engkau
gerangan Datu watena, keturunang Mappajung, yang menyerbakkan baunya, dan
memabukkan harumnya, kasihanilah aku We Raja, duduklah di sini marupe, di
kampungmu di Lisu memberi makan orang bumi, simpanlah di luar langit, dan di
atas bara, amarahnya hambamu”.
Ia pun menangis dan berkata, Datu Sangiangserri : “Baik sekali ucapanmu, hai
Matoa petani, aku akan tetap pergi, mencari orang yang berbudi pekerti, orang
lapang dada, dan mempunyai sifat-sifat yang terpuji. Biarlah aku pergi membuang
diri, agar aku menemukan, sesuai dengan ucapan, di dalam jiwaku, wanita yang
apik, laki-laki yang jujur, sabar dan berpasrah diri, terhadap sesamanya
manusia, tahu menjemput wisesa. Kiranya di situlah menetap, semangat
sanubariku, barulah aku berhenti merantau. Sebab saya tidak senang, ittikad
yang tidak baik, isteri yang sama turunannya, Matoa petani itu, tidak mengenal
siapa We Tune’, yaitu keturunan Lapatotoe anaknya I Lasangiang yang menetap di
Boting Langi, di bawah di Peritiwi, keturunan manusia pertama, anak mappajung,
membawa kesusahan yang tiada taranya, dan kesedihan, sampai akhirnya terdampar
di kampungmu”.
Sembah sujud dan bersumpah, Matoa petani, yang memerintah di Lisu,
menengadahkan kedua tangannya, menyesali diri tak henti-hentinya, terhadap
orang-orang yang ada di dalam rumah, terhadap isterinya yang lalai, isteri
seketurunannya, wanita durhaka, tidak mengenal We Tune, keturunan yang
disembah. Bagaikan pupus di
dalam, perasaan hatinya, Matoa petani, penguasa di Lisu.
Tanpa berpaling lagi, Datu Sangiangserri, langsung berangkat, diarak dengan
tenang, diusung oleh air, bertelekan pada tanah, dan menyeimbangkan badan pada
angin, melewati perantaraan kampung.
Ia kemudian singgah mengamati, perantaraan kampung, mereka pun datang
berdesakan, dipinggir rumah, Sulewatang yang memerintah, sebagai penguasa di
Lisu. Kebetulan sekali orang sedang bertengkar, sekeluarga, Ia pun mendengarkan
yang disebelah timur, maka tak seorangpun yang di dengarnya, berkata-kata yang
baik, perempuan laki-laki, penduduk Lisu, dan tidak mempunyai pendapat yang
searah, sekampung dan sekeluarga, dibencinya semuanya, dan cemburu hati,
terhadap sesamanya kita turun berangkat, menelusuri suratan takdir kita, yang
telah digariskan, oleh To parampuk-rampuk’e, menelusuri jalan yang benar,
berjalan jauh, agar kita menemukan, orang yang sesuai dengan kata hati kita,
sabar dan berpasrah diri, pengasih dan pemurah, merendah diri, terhadap
teman-temannya, sekeluarga dan sekampung, jujur dan hemat, sabar dan rajin, dan
diatasi oleh Batara, dipayungi Batara, dan diliputi oleh Peritiwi, agar kita
menemukan, sesuai dengan kata hati kita, dan kita pilih sebagai tempat menetap,
semangat sanubari kita, menyatukan cahaya semangat kita”.
Serentak mereka mengiya, semua padi yang banyak, padi ketan padi biasa, semua
padi yang setia, Serentak ikut pula rombongan, gandum jagung, semua jelai yang
banyak, Datu Meong Paloe, berbondong-bondong mengikuti. Datu Sangiangserri,
diarak oleh awan, bertelekan pada tanah, menyeimbangkan tubuh pada angin,
menelusuri perantaraan kampung, mengikuti jalan yang panjang, mengikuti anak
sungai yang panjang.
Mereka tidak lagi mengamati, semua kampung yang banyak, kampung yang luas. Tiga
hari tiga malam, jalan sepanjang jalan, merekapun tiba pada sebuah persimpangan
jalan, keturunan mappajung, keturunan yang disembah, buntulah pikirannya, semua
padi yang banyak, Datu Sangiangserri. Mereka kemudian serentak berkata : “Aku
menengadahkan tangan Tuanku aku ada kulit bawang We Tune’, tenggorokanku di
dalam, akan datang La Puang, jawablah kata sepotong, keturunannya yang
disembah, anak mappajung, kemana gerangan tibanya, matahari itu”.
Mereka kemudian menemukan simpang jalan, yang menuju ke Barru, mereka lalu
sembah sujud, semua padi yang banyak, “Kemana gerangan jalan yang kita tuju,
apakah kita melewati, jalan menuju Barru? “Menjawab dan berkata, Datu
Sangiangserri :” Sebaiknya kita lewat, jalan yang menuju Barru, siapa tahu kita
menemukan, sesuai dengan kata hati kita, menampung orang yang terdampar,
menerima orang kesusahan, sabar dan pasrah, jujur dan berhati-hati, dilindungi
aku Batara, diliputi oleh Peritiwi, memusuhi nafsunya, dan membatasi marahnya.
Sebab menurut firasatku, di dalam sanubariku, di sinilah (Barru) tempat
menetapku, rumah mahligainya, Pabbicara di Barru, terang benderang kulihat
pelitanya, penuh semangat perasaanku, mendengar suara kawalakie, rajin menegur,
terhadap anak cucunya, diberinya kuru’ sumange’, terhadap semua teman-temannya.
Tempat yang kita pilih sebagai tempat menetap, adalah yang berlapang dada,
merendah diri, menghargai sesama keluarga dan sekampung, berbicara jujur, tidak
berbuat culas, terhadap isi hatinya”.
Kemudian ia tunduk sembari menangis, Datu Sangiangserri, menenangkan
perbuatannya, Matoa Maiwa, sambil menghempaskan ingus ia berkata :”Apakah
kalian masih ingat ketika pertama kali lahir di Luwu, lalu terdampar ke Ware’,
yang membuatku bersedih, tak dikembalikannya aku ke dalam, Tuan kita manusia
pertama, jelas tidak datang lagi, di dalam perutnya kembali, sama sepakat, Tuan
kita yang wanita yang timbul dari Busa Empong, turun di Luwu. Itulah yang membuat
saya marah, kupergi membuang diriku. Kubelakangi Luwu, kuterdampar di ware,
sampai akhirnya tiba, di kampung Barru. Tidak ditakdirkan We Tune, To
Pabbare-baree, menjadi manusia di Luwu, menyempurnakan kehidupan kampung, Ware,
mendinginkan orang banyak, Barru telah ditetapkan diberikan untukku, oleh Tuan
kita manusia pertama, yang turun di Luwu, sama sembahnya di ware. Tidak
ditakdirkan We Tune, menjadi datu di Luwu, menjadi Pajung di Luwu, dan
melayanglah sudah, jiwa raga mangkau’ku, sehingga menjadi padi menguning. Tiga
hari setelah aku lahir, di istana kerajannya, senapati mangkauku, orang pertama
di Luwu, yang menetas di bambu betung (Tellang Pulaweng). Usiaku kemudian
pendek, Tuhan telah mentakdirkan, mati muda di dunia, menjadi Sangiangserri,
menjadi padi menguning, pada perbuatan terlarangku, kubur pembaringanku.
Disakiti aku oleh orang Luwu, itulah yang kusakitkan, kupergi membuang diri,
kubelakangi Luwu, kuterdampar di Ware, kuterdamparlah di Barru. Sangat takbur
nian, orang Luwu dan Ware, aku tidak dinaikkannya, dirumah peristirahatannya,
hampirlah aku jadi benir, di patuk-patuk oleh ayam, dimakan tikus, baginya
lebih berharga, lebih disenangi, makanan yag salah, dia lebih menyukai, talas
dan ubi, sedih nian di dalam, perasaan hatiku aku pun pergi membuang diri,
kuterdampar di Barru
Belum lagi habis ucapannya, Datu Sangiangserri, matahari pun telah senja,
mereka pun sampai berdesakan, di pinggir kampung, yaitu kampung Barru, kampung
berkelilingnya. Ia pun berdiri mengamati, di muka rumahnya, Matoa Barru
bertepatan sekali, bertutur kata yang baik, isteri seturunannya, Pabbicara di
Barru, seiya sekata semua orang, di dalam rumah. Terus ia naik, Datu
Sangiangserri, di rumah perisirahatannya, Pabbicara Barru, menyebarkan baunya,
memabukkan harumnya. Laksana angin topan yang datang, begitu kedengarannya,
Datunna Sangiangserri, berdiri bersandar We Datu, pada papan tangga, enggan
untuk naik, keturunan mappajung itu. Maka terasalah di dalam, dalam hatinya,
Isteri Pabbicara, Ia Pun bangkit merangkak-rangkak, Matoa di Barru, sama
berangkat ke belakang, sekeluarga, mengambil air secerek, menanti baiknya, Datu
Sangiangserri, sembari menghamburkan benih, isteri Pabbiara, menyembah sambil
berkata : “Kuru’ Sumange’mu, Datu Sangiangserri, sangiang yang berdarah biru,
keturunan yang disembah, naiklah kerumah, Datu Sangiangseri, Datu Gandum, Datu
Jagung, semua jelai yang banyak, Datu Meong Palo, Datu Tiuseng, telah terhampar
tikarmu, tikar yang berpinggir laken”.
Lalu di panggillah Bissu, ditudunglah puncaknya, dan dikipas dengan La Wollo,
dan dibunyikan gendang, dan dipukulkan gong, dibunyikan leang-leang, cacalepa
emasnya, seruling yang turun (dari langit), ramailah kedengaran, upacara datu,
keturunan mappajung.
Berdirilah We Datu, dijemput oleh Bissu, dipanggil semangatnya, dan dihimpun
jiwanya, dan di datangkan semangatnya, cahaya semangatnya yang pudar, keturunan
dari Boting Langi’, keturunan di Peritiwi.
Sembah sujud dan berkata, isteri Pabbicara, anak beranak dan suami (sekeluarga)
:”Kuru’ Sumange’mu, keturunan Opu yang disembah, sebelah menyebelah berdarah
murni (maddara takku), naiklah ke rumah, duduk di singgasanamu, semua padi yang
banyak, pada kedudukan kecintaanmu”.
Barulah kemudian naik, Datu Sangiangserri. Maka tampaklah kelihatan We Datu,
menjelma kelihatan manusia, di pandang oleh manusia, Lalu dicucikan kakinya,
baru We Tune’ duduk. Maka serentak pada naik pula, semua padi yang banyak,
semua padi yang setia, gandum, jagung, semua jelai yang banyak, dan Datunna
Meong Paloe.
Sembah sujudlah cepat, isteri Pabbicara, sekeluarga, dan sama-sama berkata :”Di
ataslah engkau duduk, hai keturunan datu yang di sembah, keturunan yang pantang
di durhakai, sangiang berdarah murni, semua teman-temanmu, di mahligai
kemewahanmu, Kuberi engkau kuru’ sumange’mu, duduklah menetap, menyebarkan
keturunanmu di Barru, demikianlah ketentuan, memberi kehidupan orang bumi”.
Barulah kemudian ia duduk, Datu Sangiangserri, semua hamba terhormatnya,
mendudukan orang yang banyak, memenuhi rumah sepotong hamba yang diharapkannya,
Datu Sangiangserri. Di minyak-minyakilah, dan didupailah, laksana kabut yang
naik, asap kemenyan itu, kemudian di jamu dengan sirih.
Sembah sujud ia berkata, isteri Pabbicara, sekeluarga :”Duduklah engkau hai We
Raja, di kampungmu di Barru, demikianlah ketentuan, semangat jiwa ragamu,
memberi kehidupan orang bumi. Ku pergi memanggil, semua penduduk Barru, sebab
sudah terlalu lama engkau tinggalkan, membelakangi kampungmu, pergi tanpa
perkataan pulang, haus dan lapar sudah, pendudukmu di Barru.
Sejak kamu telah pergi, sepanjang jalan, menuruti jalan yang panjang, melewati
perantaraan kampung, tak pernah lagi kembali, datang Sangiangserri, dan naiklah
wisesa itu, di sini di tanah Barru.
Tunduklah tanpa berkata, Datu Sangiangserri, belum lagi hilang capeknya, Datu
Sangiangserri, serentak berdatanganlah, penduduk Barru, secepatnya pada naik,
memuja-muja tak henti-hentinya, di hadapan We Datu, memberi kuru’ sumange’,
Datu Sangiangserri, semua padi yang banyak, para hamba, Matoa petani memanggil
dengan cepat, semua penduduk Barru.
Belum lagi hancur daun sirih, dan belum sempat mata berkedip, maka pada
berdatanganlah berbondong-bondong, tamu yang banyak, penduduk Barru, melingkar
bak pasar ramainya, Tak henti-hentinya naik, jamu-jamuan We Datu, belum begitu
matang Wisesa, pemberian jamuan dinaikkan oleh orang Barru. Belum lagi hancur
daun sirih, dan mata berkedip, maka diangkatlah ke luar, jamuan untuk We Datu :
lepet jelai, ketupat gandum, pisang raja bersisir, kelapa muda, tebu yang telah
dibersihkan, nasi ketan berkepal di piring, juga dibuat seperti tiang, dan
dibentuk seperti orang-orangan, diruncingkan puncaknya, bulat seperti bulan
tengahnya, dan ditudungilah atasnya, lalu digantungi emas semua puncaknya,
semua ubi dan talas, penjemput hidangan, untuk Datu Sangiangserri, semua padi
yang banyak, dan Datu Meong Paloe.
Sesudah makan minum, Datu Sangiangserri, maka segera diberi sirih, dan kembali
di dupai, laksana kabut yang mengepul, asap kemenyan, mengembalikan semua
semangatnya, Datu Sangiangserri, menghimpun jiwa We Datu, duduk bergembira ria,
semua teman-temannya, Datu Sangiangserri.
Maka sembah sujudlah berkata, semua penduduk Barru :”Kuru’ sumangemu’,
keturunan opu yang disembah, mangkau’ yang terhormat, seperti aku diliputi
langit, dikasihani Dewata, gembira tak terkira, senangku tak terukur. Karena
pada akhirnya kau kembali, kusandari tak bergoyah, demikianlah ketentuan di
dalam tenggorokanku, bersama-sama kita ke maje (akhirat), pada hari kemudian”.
Menjawab dan berkata, Datu Sangiangserri :”Dengarlah baik-baik, isteri
Pabbicara, semua orang yang banyak, penduduk Barru, apabila kau kekalkan,
sifat-sifat baikmu, kata-katamu yang tidak bertentangan, di dalam kampung,
itulah yang aku senangi, kembali semua semangatku, maka itulah satu ampunan,
orang yang menerima orang yang kesusahan, menampung orang yang terbuang,
menerima orang yang dibenci, disertai belas kasihan, orang yang menampung orang
terbuang, membawa susah tiada taranya. Itulah sebabnya kutinggalkan Luwu,
kuterdampar di Ware, kusampai di Maiwa, karena dibencinya kucing, disiksanya
kucing, jauh aku mengembara, hingga tiba di Barru, karena engkau mempunyai
sifat menerima, orang yang kesusahan.
Sembah sujud dan berkata, isteri Pabbicara :”Kuru sumange’mu, keturunan opu
yang disembah, keturunan pajung, Datunna Sangiangseri. Kehendakmulah We Raja,
kepadamulah We Datu, sebab tuanku tahu, kami ini orang dungunya Dewata, apa
kehendak We Datu, itulah yang saya ikuti. Karena engkau maha pengasih,
beritahukanlah aku Puang, ajarkanlah semuanya tingkah-laku Sangiangserri, kuyakini
dengan pasti, di dalam hatiku, kugenggam tak terlepas, engkau yang tertua sejak
awalnya, aku hanya tua dalam kelahiran”.
Menjawab dan berkata, Datu Sangiangserri :”Baiklah kalau begitu ucapanmu,
dengarlah baik-baik, isteri Pabbicara, semua orang yang banyak, kalau kau
kekalkan, sifat-sifat lembutmu, ucapan yang tidak bertentangan, sekeluarga dan
sekampung, di dalam kampung, benarlah aku duduk di Barru, demikianlah
ketentuan, di dalam kerongkonganmu. Karena itu kamu orang Barru, janganlah
saling bertentangan, sekeluarga dan sekampung, di dalam kampung, benarlah aku
duduk di Barru, demikianlah ketentuan, di dalam kerongkonganmu. Karena itu kamu
orang Barru, janganlah saling bertentangan! pada sore hari, jangan membesarkan
suaramu! pada waktu tengah malam, jangan besar suara pada subuh hari, pada
fajar subuh, sebab saya terkaget-kaget, iba perasaanku, padam semangatku. Itu
ketika aku berjalan, berkeliling di kampung, mencari sifat-sifat yang baik,
mendengar suara, orang yang berbudi luhur, yang bagus tutur katanya. Sebab yang
selalu kucari, sebagai tempat menetapku, adalah orang yang mempunyai
sifat-sifat yang baik, itulah tempatku menetap, kampung yang berhati-hati. Tiga
kali semalam, aku berkeliling dunia, jangan sekali-sekali menggemuruh! Memukul
timba tempayanmu, kalau kau menimba air, perbaiki terlebih dahulu! Perasaan
hatimu, yang membuat senang, jangan sekali-sekali padamkan lampumu! Pada tengah
malam, jangan tak menghidupkan! Apimu di dapurmu, tutuplah tempat berasmu! Kumpulkanlah
takaranmu! Itu yang membuat aku gembira, kembali semua semangatmu, pada malam
hari, Jangan sekali-sekali tidak mengumpulkan! Sajimu bersama sendokmu, kalau
kamu tidak mengindahkan, pantangan wisesaku, sifat-sifat Sangiangserri, ketika
aku sedang bersiap-siap, naik ke tangga, menuju rumah, ketika aku pergi,
mengelilingi kampung, kudapati kalian ribut, di muka dapur, bertengkar di
rumahmu, aku turun kembali. Tiga tahun kemudian, hilang semangat rezekimu, di
dalam dunia, wisesa (bibit) yang kamu tanam. Tidaklah tahu hal ihwal? Keturunan
I La Patotoe, keturunan To Palanroe, menetasnya di Luwu, anaknya Batara Guru,
orang pertama di dunia.
Berkeliling di dunia, menyebarkan baunya, memabukkan harumnya, mencari
sifat-sifat yang baik, diantar oleh rasa kesedihan, pergi kemana-mana, mencari
orang yang penyayang. Ia pun menangis sambil menunduk :”Tahukah engkau, para
penduduk Barru, hambaku di Watampare, saya bersiap-siap, menuju (naik) ke
langit, sebab sudah terlalu perih, perasaan hatiku, dudukku (ketika menetap) di
Maiwa, dibencinya kucing, disiksanya kucing itu, di pukul siang dan malam, Datu
Meong Palo. Seperti diiris sembilu, perihnya kurasakan, perasaan hatiku,
mengingat perbuatannya, wanita yang durhaka, yang sama semua dalam rumah,
laki-laki perempuan, Itulah yang membuatku sangat sedih, ditendangnya kucing,
di atas tumpukan padi, biarlah aku naik ke langit, aku tak ingin lagi hidup di
dunia ini”.
Serentak sembah sujud dan berkata, isteri Pabbicara, semua orang yang banyak,
penduduk Barru, dan sama berkata :”Kalau memang demikian La Puang, engkau
menuju, naik ke Boting Langi, bawalah aku La Puang, buat apa aku hidup di
dunia, apa yang kita pertahankan di sini, tak satupun, memberi kehidupan
(kami).
Menangis sembari berkata, Datu Sangiangserri :”Kuru’ Sumange’mu, semua yang
menyenangi aku, duduklah engkau marupe, di kampung yang membesarkanmu. Biarlah
sayalah sendiri yang melayang, terus naik ke langit, pada bambu kehidupanku,
senapati mangkaukku, merajuk tak henti-hentinya, Kecuali tidak diizinkan, duduk
menetap di langit, barulah aku kembali, di Barru, aku akan memilihnya (Barru)
sebagai tempat menetapku, semangat jiwa ragaku.
Sembah sujud dan berkata, isteri Pabbicara :”Kalau memang demikian La Puang
kehendakmu, benar-benar akan naik, melayang di langit, mohon supaya kembali, di
kampungmu di Barru, demikianlah ketentuan, pada tenggorokan “Menangis dan
berkata, Datu Sangiangserri :”Kalau memang takdir (toto) saya kembali, barulah
kita bergembira ria, di mahligai kemewahanmu, apabila tidak diperkenangkan,
orang tua mangkaukku, duduk dan menetap di langit, berakar di langit, dan sama
mengiyalah, semua penduduk Barru”.
Belum habis ucapannya, Datu Sangiangserri, laksana angin topan yang datang,
begitu kedengarannya, angin ribut tersebut, ketika menuju melayang, Datu
Sangiangserri, menyebarkan baunya, memabukkan wanginya, kilat
sambung-menyambung, diikuti oleh gemuruh guntur. Ketika tengah malam, ketika
bertemunya gelap, saat itulah mereka berangkat, keturunan To Palanroe, semua
padi yang banyak, padi ketan padi biasa, semua padi yang setia, gandum jagung,
semua jelai yang banyak, Datu Meong Paloe.
Pada berangkatlah ia, melayang, Datunna Sangiangserri, semua padi yang banyak,
terus naik ke langit, keturunan pajung. Belum lagi hancur daun sirih, belum
lagi berkedip mata, maka sampailah di atas, pada lapisan awan. Dan terbukalah
kuncinya, pintu langit, dan datang melihat dan menyaksikan, lapis-lapis langit,
terus mereka naik, di Sawo Wero Pareppa. Mereka akhirnya sampai berdesakan, di
muka We Raja, dan sembah sujud menyembah, dihadapan tuhannya, To Pabbare-baree,
di istana kemewahannya, nenek mankauknya, kebetulan sekali, sedang menampakkan
diri, To Palanroe pada tahta keemasannya, kursi kerajaannya, diliputi oleh
perasaan kasih, sembah sujud dan duduklah, dihadapan tuhannya, senapati
mangkauknya, batara yang melahirkannya, yang menurunkannya ke dunia, menjadi
Sangiangserri, memberi kehidupan orang bumi, Bagaikan orang yang menimba, madu
di dalam hatinya, jiwa keperkasaannya, To Pabbare-baree, menatap raut wajahnya,
keturunan kegembiraannya. Langsung We Tune duduk, di muka Tuhannya, laksana
matahari terbit, mentari yang mulai muncul, muka yang tidak membosankan,
bagaikan bulan yang sempurna.
Menangislah tersedu-sedu, Datu Sangiangserri, padi ketan padi biasa, gandum
jagung, semua jelai yang banyak, Datu Meong Paloe. Ia pun berpaling dan
berkata, To Pabbare-baree “Kuru’ Sumange’mu We Tune’, anakku We Maudara
(panggilan kesangan Sangiangserri), apa yang menyebabkan engkau naik? Di sini
di Boting Langi, anaknya We nyili’ Timo (ibu Sangiangserri), puteri Batara Guru
(Ayah Sangiangserri), mengapa engkau tidak menetap di dunia? Memberi kehidupan
orang bumi”.
Tunduk dan menangislah, Datu Sangiangserri, sembah sujud berkata:”Sebabnya La
Puang, kunaik di Ruwang Lette, sembah sujud dihadapanmu, kusampai merajuk, saya
berkeinginan, kembali masuk, pada bambu orang tuaku, menjadi darah yang
dikandung, senapati mangakaukku, sebab aku sudah terlalu sakit rasanya, menjadi
padi di dunia. Aku tidak menyukai perbuatannya, tak kusuka sifat-sifatnya,
orang dunia orang bumi itu, aku sudah tidak menggembirainya (menyenanginya), di
sepak-sepak aku burung pipit, diisap langau, dilejit oleh tikus, bisa-bisa aku
jadi benir. Mereka tidak lagi menjaga aku, juga tidak berpantang lagi,
pantangan wisesaku. Tidak seia sekata, orang di dalam dunia, orang di dalam
kampung, jauhlah diperkatakan, orang di dalam rumah, merekapun menusukkan
tongkatnya, makan yang bukan makanannya, orang dunia orang bumi itu”.
Memasukkan larangan pergaulan, orang yang muda menyiksa, perempuan yang
bersalah, itulah yang membuatku bersedih, ibah lah hatiku, hilang semangatku,
tersingkap jiwa ragaku, juga di dalam, perasaan hatiku, Aku sangat benci,
dibencinya kucing, disiksa kucing itu, dipukul siang malam, sebab hanya dialah
La Puang, kuharapkan menjagaku, mengembalaku menjagaku, siang dan malam, justru
dialah yang dibenci, dipukul tak berantara, ketika aku tinggal di Maiwa, Sebab
cukuplah Tuhan, perihnya perasaanku, tak dapat lagi La Puang, aku kembali ke
dunia, berkembang biak di dunia.
Orang tidak lagi menghargai diriku, akupun sudah tidak menggembirainya
(menyenangi), dilaksanakannya semua pantanganku, sifat-sifat wisesaku,
pabbicara yang culas, serta raja yang tidak jujur.
Ia pun tunduk menangis, To Pabbare-baree, menjawab dan berkata : “Kuru’
Sumange’mu, kur jiwa kesayanganku, seluas langit pusakamu, marahkah engkau La
Wija? (keturunanku)? Meraju kah gerangan engkau We Datu, merayu-rayu tak henti,
anakku We Maudara, sehingga engkau naik ke langit, di kampung kediamanmu, di
tempat dibesarkannya, senapati mangkaukmu. Lalu bagaimana anakku We Maudara,
kalau kamu merenguk terus, tak mau lagi menjadi orang bumi, hancurlah sudah,
orang bumi itu, semua orang akan mati, semua yang ditutup di langit. Aku tak
tahu lagi bagaimana harus menjawabmu, aku tak bisa lagi membantumu, anakku
Sangiangserri, ketika kamu merajuk di sini, di Sawo Wero Pareppa, pada
perbuatan pantangan Tuhanmu, bambu kelahiranmu. Karena memang di sanalah
menetap, semangat jiwa ragamu, penahan jiwamu, ibu mangkaukmu, Batara yang
melahirkanmu, di atas di Coppo Meru, sampailah engkau merajuk, sebab
keinginanku, di dalam sanubariku, aku ingin kau tetap menetap, hidup di dalam
dunia, di dunia mengembangkan turunanmu”.
Merunduk sembari menangis, Datu Sangiangserri, belum lagi lepas pembicaraan, To
Pabbare-baree, ia pun berpaling menendang, jalan yang menuju, di kampung Coppo
Meru, ditiupnya tiga kali, keturunan kegembiraannya, tak terasa dirinya, Datu
Sangiangserri.
Ia pun berdiri maju, di kampung Coppo Meru (alam arwah) , tempat menetapnya,
ibunda mangkauknya. Ia pun berpaling melihat, Batara yang melahirkannya, suami
isteri, tak ubahnya orang yang saling diselipkan, jiwa raganya, senapati
mangkauknya, Datu Sangiangserri, menatap anaknya. Lama kemudian baru Opu Batara
Luwu berpaling, menangis sembari berkata, Datu yang tercinta :”Kuru sumange’
mu, anakku Sangiangserri, ada apa gerangan kamu naik, di Sawo Wero Pareppa?
Mengapa tidak menetap saja di dunia, memberi kehidupan orang bumi”.
Secepatnya sembah sujud, Datu Sangiangserri, lalu bangkit duduk, di mahligai We
Datu, yang bersegi tiga kemilaunya, serentak berdiri pula, semua temannya,
hamba sesama terbuang, Datu Sangiangserri.
Sembah sujud dan berkata :”Itulah sebabnya La Puang, ku naik di Boting Langi,
ku sampai di Coppo Meru, ku tiba berdesakan, di Sawo Wero Pareppa, Aku tak mau
lagi duduk (menetap) di dunia, memberi kehidupan orang bumi, tak dapat lagi aku
menjadi orang bumi, aku rindu kamu kembalikan, masuk kedalam rahim, aku tak
suka perbuatannya, tak kusukai sifat-sifatnya, orang bumi itu. Musnah gerangan
We Tune, duduk di kampung dunia, aku hanya tinggal di bumi, di patuk-patuk
ayam, dilejit oleh tikus, di habis-habisi oleh burung pipit, diisap oleh
langau, dililit oleh ular, dimusnahkan oleh ulat, bisa-bisa aku jadi benir,
Mereka tidak lagi mau menungguiku, Halnya kucing, kuharap menjagaku,
mengembalaku, menjagaku, siang dan malam, justru dialah yang dibenci, dipukul
tak berantara, oleh isteri kecintaannya, matoa petani itu, yang berkuasa di
Maiwa. Itulah yang kubenci, perihku tak terucapkan, ku langsung menuju, naik di
Boting Langi, memegang lama La Puang, kamu benarkan kepedihanku”.
Tunduklah ia menangis, ibunda mangkaunya, Datu Sangiangserri, sembari berkata
:”Kasihani aku We Tune’, turunlah kembali! Menghadirkan diri di dunia, memang
demikianlah takdirmu, dari to Parampu’-rampu’e, ketika kamu diturunkan ke bumi,
memberi kehidupan, pada tenggorokannya, manusia di dunia dan di bumi. Dan
bisalah semua orang, anakku We Maudara, semua keluargamu. Duduklah engkau di
dunia! Mati semua We Tune, semua yang di tutup langit, kalau engkau tetap
menetap di sini, di kampung Coppo Meru, Sebabnya saya naik, di Sawo Wero
Pareppa, sebab telah padam, semangat jiwa ragaku, pupuslah sudah jiwaku, padam
bagai pelita, jiwa ragaku. Izinkanlah aku di sini, di kampung Coppo Meru,
negeri hari kemudian, di sini padang yag luas.
Tak tahukah engkau, bahwa telah berpindah di hari kemudian, Batara yang
melahirkanmu. Kasihanilah aku We Tune’, anakku We Maudara, turunlah cepat, di
kampung orang dunia, memberi kehidupan orang bumi, karena demikianlah
ketentuan, di dalam tenggorokan, orang dunia orang Bumi”.
Sembah sujud dan berkata, Datu Sangiangserri, sembari menangis tersedu-sedu
:”Kasihanilah aku La Puang, turutlah rajukanku. Biarlah kita mati bersama,
kembali di hari kemudian, kulaksanakan semua pantangan, di kampung Coppo Meru,
ataukah di Sawo Wero Pareppa. Biarlah ku tinggalkan, kubelakangi dunia, dari
pada tinggal di dunia, berakar di Watampare’, kudengar tak kudengar, melanggar
pantanganku. Sesuatu yang sangat tidak kusukai, berbicara takabbur,orang dunia
itu, jelaslah sudah La Puang, tak senang dengan diriku, saya juga sudah tidak
menyenanginya. Apa saja yang terbaik, ku naik La Puang, agar supaya engkau mau,
memasukkan aku kembali, masuk di dalam rahim. Tak dapat lagi aku menjadi orang
bumi, aku tidak menyukai sifatnya, juga perbuatannya, orang dunia orang bumi
itu.
Biarlah mati semua, apalagi yang harus ku ambil pulang, kembali di dalam dunia,
di patuk-patuk ayam, di lejit tikus,hampir saja aku menjadi benir, dililit
ular. Tidak mau lagi menjagaku, dikerjakannya semua pantanganku, pantangan
wisesaku, tak ada lagi yang dapat kupertahankan, semangat jiwa ragaku.
Pedihku tak terkira, dipukulnya kucing, dipukul siang malam, Padahal Cuma
kucing itulah, kuharap menjagaku, menyempurnakanku dan membesarkanku, menjagaku
dan mengawalku, tanpa tidur, pada siang hari.
Justru dialah yang dibenci, Datu Meong Palo, pada isteri kecintaannya, matoa
petani, yang berkuasa di Maiwa. Itulah yang kusakitkan, pedih tak terperikan.
Maka berangkatlah aku, pergi membuang diri, jalan menelusuri takdir, mencari
sifat-sifat yag baik, menelusuri jalan yang panjang, hingga akhirnya aku sampai
di Barru. Kusinggah mengamati, dan dari situlah aku menuju, di tempatnya,
Pabbicara Barru, naik kelangit ini.
Aku ingin kembali, masuk ke dalam rahim, menjadi darah kau kandung, di dalam
perut, tak usahlah saya menetap di dunia, merasakan semua, semua yang merayap
dan semua yang terbang, semua yang di tutup langit”.
Bagaikan orang yang diselipkan, perasaan hatinya, Opu Batara Luwu, bagaikan
pupus di dalam, perasaan hatinya, mendengar ucapannya, isi perutnya. Tiga hari
ketika ia lahir, padam semangatnya (meninggal), semangat mangkau’nya, di
kampungnya di Luwu. Tapi dilanggar pantangannya, pantangan wisesanya, Anak
perempuan diciptakan, bagaikan matahari bersinar, bulan bersinar, kelihatan
jelas, anak kecintaannya, yang kemudian sama padam (meninggal), semangat jiwa
raganya, tertegun (tagalatta), dia melihatnya, kecantikan kecintaannya,
bagaikan bulan sempurna (seppulo eppa ompona ketennge), lemah lunglai di dalam,
perasaan hatinya, Batara terhormatnya Luwu, rindu di anaknya, orang yang
korban, tenggelam, menjadi Sangiangserri, duduk sendirian, dimasukkan ke dalam
dunia.
Ia pun berpaling dan berkata, senapati ibundanya, Batara Sangiangserri :” Tak
ubahnya kecantikannya, anak kecintaan mangkau’nya, kembar emas yang dipandang,
tuhan kita Patotoe, dan perempuan, sama kecantikannya, tuhan kita Palinge,
tidak tinggal begitu saja, anak kecintaan mangkau’nya, tak ada duanya
kecantikannya, di dalam dunia, bercahaya benar rumah, menyinari rumah, bagai
bulan bersinar, matahari yang mulai terbit, berkilaupun mata memandangnya,
roman muka kecintaannya”.
Kemudian ia tunduk dan menangis, menepuk dada tak henti-hentinya Batara yang
melahirkannya, Datu Sangiangseri, sembari berpaling dan berkata :”Kuru’
Sumange’mu We Tune’, anakku Sangiangseri, merajukkah engkau gerangan, juga
bersitegang, merajuk tak henti-hentinya, tapi apalah dayaku, kali ini aku tak
dapat menuruti, rajukanmu, dua kalikah engkau diciptakan? Melewati jalan yang
sempit? Menjadi darah ku kandung? Sebab engkau tak diizinkan, hidup menetap di
langit, juga tak boleh We Datu, dikembang-biakkan (pabbija) di Batara (langit),
memang kau hanya diciptakan di dunia, untuk menjadi Sangiangserri, memberi
kehidupan orang bumi, memang demikianlah takdirmu, dari To Parampu’-rampu’e”.
Tunduk dan menangislah, Datu Sangiangserri, begitu deras mengalir air matanya,
sembari sembah sujud dan berkata :” Aku benar-benar sudah tidak mau, kembali ke
dunia, biarlah aku pergi, membuang diri La Puang. Biarlah orang dunia itu,
merasakan sakitnya, mau mati orang dunia itu, atau musnah orang bumi itu,
biarlah semuanya menyeberang, kembali di dunia dan hari kemudian, membuka
perkampungan dimana, tenggorokannya, orang dunia durhaka itu, tidak seimbang,
hati sanubariku, hidup dibuatnya menderita. Ketika aku lagi nyenyak tertidur,
ia naik menendang, Datu Meong Paloe, di puncak tumpukan padi, kubangun
awut-awutan, lemah lunglai di dalam, perasaan hatiku, dikagetkannya aku, isteri
kecintannya, matoa petani, yang berkuasa di Maiwa.
Apakah engkau lebih memilih dia La Puang, dari pada anak kandungmu, orang
keturunan bersalahmu, menjadi Sangiangserri aku benar-benar sudah enggan
kembali, di dalam dunia”.
Sejenak ia tunduk dan menangis, Batara tunggalnya Luwu, mengusap-usap (kepala)
anaknya, diminyakinya kembali, di dupailah segera, sembari memberinya pakkuru’
sumange’, isi perutnya (anaknya), laksana kabut yang mengepul, sirih lengkapnya
Puange, yang timbul di Busa Empong.
Ia pun berpaling sambil berkata, Opu Batara Luwu :” Kasihanilah aku We Datu,
anakku We Maudara, turutlah diturunkan, menjelmakan diri di dunia, untuk
menetap di sana We Tune’, duduklah kembali di Luwu, di tempat dibesarkanmu, di
kampung yang dikuasai, Batara yang melahirkanmu”.
Sembah sujud menangis, Datu Sangiangserri, menyembah kedua belah tangannya dan
berkata :” Kubuka kedua belah tangan ku La Puang, kusembah semua ucapanmu, aku
tidak mau lagi kembali ke Luwu, Mereka lebih menyukai sagu, lebih menyukai dan
mengutamakan, dari pada diriku, dia tidak mengetahui dirinya, orang Luwu dan
Wara’ itu, keturunan La Patoto, tunasnya La Palanroe (Batara Guru), yang
menetas di bambu betung, anaknya (pattolana) We Nyili’ Timo, yang muncul dari
busa air. Membawa kepedihan yang besar, dan kesedihan yang tiada tara. Karena
dibencinya kucing, Datunna Meong Paloe, sampai akhirnya aku pergi membuang
diri, kubelakangi Luwu, dan terdampar di Maiwa”.
Menjawab dan menangislah, ibunda mangkau’nya, Datu Sangiangserri :” Bagaimana
gerangan perbuatannya, orang yang tak mengenal tuhannya, yang sengsara yang
besar, melahirkan anaknya. Tiga hari kemudian, maka padamlah nyawanya, dan tiga
hari kemudian, kuziarahi kuburmu, kudatangi padi yang menguning, berkumpul dan
berhimpun, gandum dan jagung, semua jelai yang banyak, kunaik di Boting Langi,
menyampaikan kepada tuhan kita, To Pabbare-baree, dan jawabnya :” Itulah
anakmu, menjadi padi menguning, menjadi gandum dan jagung, menjadi jelai yang
banyak, jangan sekali-kali engkau memakannya ! anak kecintaanmu, sebelum lepas
La Bela, tiga tahun meninggalnya, masuknya di dalam perut”.
Sembah sujud dan berkata, Datu Sangiangserri :” Bukan La Puang, menyebabkan aku
meninggalkan Luwu, dan kutinggalkan Wara’, di negeri kekuasaanmu, engkau
masukkan aku, di dalam tenggorokan, justru itu La Puang, kutinggalkan Wara’,
karena benciku yang tiada tara, marahku yang marah betul, karena tidak
dinaikkannya aku, ku duduk La Puang, di perantaraan kampung, dimakan tikus, di
patuk-patuk burung, hampir saja diriku jadi benir, itulah yang membuat aku
marah, kupergi membuang diriku, mengelilingi dunia ini”.
Kembali tertunduk dan menangis, Datu Sangiangserri, menangis tersedu-sedu,
deras mengalir, air matanya, mendengarkan ucapan-ucapannya, senapati
mangkau’nya, lama ia dibujuki, dibelai-belai dan di usap-usap, dan diminyaki,
kemudian di endapkan, minyak wangi yang harum baunya, barulah kemudian, merasa
enak perasaan hatinya, Datu Sangiangserri.
Menjawab berkata : “Duduklah engkau La Puang, di mahligai istanamu, sekeluarga,
kuberi engkau semua makanan, semua isi istana, terhadap orang yang berpisah
jiwanya”.
Dan serentak mereka berkata :”Peganglah erat-erat jiwa datumu, anakku We
Maudara, kembali, ke kampung dunia, memberi kehidupan orang bumi, demikianlah
ketentuan, berakar menyebarkan keturunanmu”.
Menjawab dan berkata, Datu Sangiangserri :” Biarlah aku turun kembali, dan yang
kupilih untuk kutinggali, adalah yang sesuai dengan kata hatiku, jujur dan
tidak pelit, terhadap sesamanya manusia, tidak berbuat culas, di dalam hatinya,
tidak cemburu hati, terhadap sesama manusia, tahu menghargai wisesa, menaikkan
Sangiangserri, Apabila saya tidak menemukan orang yang baik hati, aku kembali
kelangit, kita bersama-sama La Puang, yang telah ditentukan”.
Serentak ia tunduk menangis, ibu mangkau’nya, begitu deras mengalir, air
matanya, duduk saling bertangis-tangisan, anak kecintaan kesayangannya,
mendengar ucapan-ucapan, isi perutnya (anaknya), merenungi nasib (toto)
anaknya.
Ia pun berpaling berkata, Opu Batara Luwu, sembari menangis tersedu-sedu,
mengusap-usap anaknya :”Kuru’ Sumange’mu, anakku We Maudara, kasihani aku We
Tune ! perbaiki, perasaan hatimu, kembali menjadi orang bumi, kau telusuri
takdirmu, yang telah ditentukan, To Pabbare-bare’e. Sebab menurut firasatku,
tidak enak perasaanmu, memabukkan baumu, makanannya orang dunia, Peganglah jiwa
datumu ! anakku Sangiangserri”.
Belum lepas ucapannya, Batara tunggalnya Luwu, dibenarkan ucapannya, senapati
mangkau’nya, sambung-menyambunglah bunyi guntur, sabung-menyabung kilat,
turunlah pergi We Datu, berpegang erat pada guntur, berpautan dengan kilat,
dipikul dengan udara, bertelekan pada tanah, menyeimbangkan badan pada angin,
Serentak mereka berangkat, semua teman-teman, hamba datu pengawalnya,
mengikutinya turun ke bawah, Datu Sangiangserri. Bagai akan musnah langit, dan
patah batara (langit) itu, bergetar peretiwi, bagai hancur tanah, di bawah di
dunia, sebagai pertanda menuju, kembali di dunia, anaknya Batara Guru, anaknya
We Nyili’ Timo, yang menetas, pada bambu petung, dan yang muncul di busa air.
Bagaikan akan menghilang tanah ini, bagai akan tercabut tanah ini, serentak
orang-orang dunia berkata, orang di bawa batara :” Siksaan apa gerangan, dari
To Pabbare’-baree, begitu berat kedengaran, goyangan langit itu, peretiwi di
dengar, bakal hancur dunia ini, karena kerasnya suara guruh itu “
Begitulah tandanya, menuju, turun kembali, Datu Sangiangserri, berhamburan
manusia, di kampung dunia, orang yang di benua bawah, Bagaikan akan pupus,
perasaan hatinya, Opu Batara Luwu, melihat anaknya, di terpa sinar matahari,
duduk dia bersandar, mengamati anaknya, berpegang pada petir, berpaut pada
guntur, melewati celah-celah awan, berkilauan di pandang, mentari yang mulai
bersinar, matahari yang mulai naik, cahaya kilat bersinarnya. Tertegun (tagalatta)
di dalam, perasaan hatinya, Opu Batara Luwu, melihat kecantikan isi perutnya,
menjadi Sangiangserri.
Ia pun berpaling dan berkata, Opu Batara Luwu, pada isteri kecintaannya :”Lebih
baik kita turunkan sekarang, angin ribut kebencian, dan dimusnahkan Maiwa, dan
dipindahkan semua, reruntuhan negeri di dunia, orang bumi yang durhaka, sampai
kepada yang tidak mengenalnya, keturunan I La Patoto, di atas di Ruwang Lette”
Maka disiksalah semuanya, semangat jiwa raganya, orang yang membenci kucing,
menyiksa kucing, Datu Meong Paloe, dan dimusnahkan juga semuanya, orang dunia
orang bumi, yang memasukkan (melanggar) pantangan, pantangan pemali wisesa. Dan
yang menusukkan tongkatnya, perempuan bersalah, pabbicara yang culas, raja yang
tidak jujur, orang yang cemburu hati terhadap sesamanya manusia.
Sebab terlalu sakit hatinya, menyaksikan anaknya menderita, isi perutnya. Tidak
enak perasaannya, di dalam hati sanubarinya, mendengar perbuatan, matoa petani,
penguasa di Maiwa, Maka berdatanganlah, binatang-binatang yang banyak,
penyiksaan yang tidak ada duanya. Dan diturunkan pula, penyiksaannya yang kuat,
kampung di Maiwa, semua kampung yang pernah diinjak, Datu sangiangserri, semua
kampung yang disinggahinya, menepakkan pikiran, terbakarlah sudah, dan menjadi
debulah, kampung Maiwa, hancurlah kampung Kessi, rubuh pulalah Lisu, menjadi
debu tak muncul, kampung di Watu, semua kampung yang dilewati, Datu
Sangiangserri, bersih laksana lautan, kampung Langkemme.
Tunduk sembari melihat, Datu Sangiangserri, dipindah-pindahi negeri lain. Dan
bergetarlah ia menyaksikan, perasaan hatinya di dalam, sembari berkata, didalam
hatinya :” Di dahului betul aku, penyiksaan yang diturunkan, ibu mangkau’ku,
barulah aku yakin, sudah teguhlah di dalam perasaan hatiku”
Terus-terus ia pun turun, Datu Sangiangserri, dan tengah malam, ia pun tiba
berdesakan, di kampung Barru. Sebab memang telah siap, pabbicara di Barru,
menunggu kembalinya, Datu Sangiangserri, Isteri pabbicara, sekeluarga, memberi
kuru’ sumange’, keturunan pajung itu, sembari meneburkan bertih tak
henti-hentinya, berbunyilah penutup sirih, menarilah para bissu (maujangka),
bissu yang turun langsung dari angkasa, pergi melengkapi, bawaan orang boting
langi’, dituntun oleh peritiwi, mengusung We Datu, Datu Sangiangserri.
Berdirilah merangkak-rangkak, isteri pabbicara, menimba air secerek, baru
kemudian ia duduk, menghadapi pelita, sekeluarga, di sebelah selatan dapur,
menunggu We Tune’.
Naiklah merangkak-rangkak, bissu langsung dari langit tersebut, menggantungi La
Wollo, menabur bertih tak henti-hentinya, menghamburkan cucubanna, dan memberi
kuru’ sumange’, Datu Sangiangserri, semua padi yang banyak, Datu Gandum, Datu
Jagung, semua jelai yang banyak, Datu Meong Paloe.
Serentak mereka terangkat, diarak dengan tenang, dan dibunyikanlah galappo,
dikipas dengan La Wollo, dan yang ditempuh naik, di istana kerajaannya,
pabbicara di Barru, kemudian dicucikan kakinya, Datu Sangiangserri.
Sembah sujud dan berkata, isteri pabbicara :”Kuru’ sumange’mu, keturunan opu
yang disembah, sebelah menyebelah berdarah murni (maddara takku’), di atas
gerangan engkau duduk, di istana kedudukanmu, semua yang menyenangimu. Kuru’
Sumange’mu, kur jiwa kecintaanmu, keturunan opu yang disembah, keturunan orang
yang di durhakai, sebelah menyebelah berdarah murni, semua telah siap, tempat
tertegun (tagalatta) jiwamu, seluas langit pusakamu, tempat tertumpunya jiwamu,
perilaku wisesa, agar senang perasaanmu, perasaan hatimu, semangat jiwa ragamu,
agar supaya dapat menetap, jiwa sanubarimu, di kampungmu di Barru”
Barulah dia perdi duduk, Datu Sangiangserri, semua padi yang banyak, memenuhi
rumah sepotong, Kemudian diminyaki cepat, lalu diberi sirih, Datu
Sangiangserri. Sembah sujud dan berkata, isteri pabbicara, sembari berpaling
menaburkan bertih :”Kur jiwa semangatmu, karena kau tetap kembali di sini,
demikianlah ketentuan, berakar menyebarkan keturunan, di Kampung Barru”
“Menjawab dan berkata, Datu Sangiangserri :”Mudah-mudahan abadilah, hati
baikmu, jujur, berhati-hatimu. Demikianlah pula semua sesamamu, karena sifat
penyayangmu, menerima orang yang terbuang, menampung orang yang kesusahan,
supaya tidak kemana-mana, mencari sifat-sifat yang baik, terbuang dan
terdampar, di kampung yang jauh, sampai akhirnya aku tiba, pada tempat
dibesarkannya, saudaraku di Barru. Karena adanya sifat pengasihmu, biarlah aku
menetap di Barru, mendengar dengan seksama, kata-kata yang baikku. Agar supaya
engkau juga memahami dengan baik, pantangan wisesa, anak cucumu,
sahabat-sahabatmu, semua yang menyenangiku, penduduk di Barru”
“Dengarlah baik-baik ! pesan dan petunjuknya, nasehat baiknya, nenek
mangkau’ku, Batara yang melahirkan aku, pembuluh rahim, Opu Batara Luwu, orang
pertama di Wara’, yang muncul di busa air, yang menetas di bambu betung.
Ketahuilah We Tune’, To Pabbaree-baree, janganlah kamu kasar mulut ! pada waktu
tengah malam, jangan besar suara! Pada bertemunya gelap, pada subuh hari,
jangan juga marupe’ ! kamu menyaji nasimu, kalau belum begitu lurus perasaan
hatimu, jangan berkata-kata ! kalau kamu sedang makan, sebab terkaget-kaget, di
dalam hati sanubarimu, jangan engkau menyaji nasimu ! kalau belum kamu cuci !
tangan dan sendokmu, sebab kalau demikian, seperti kurasakan, orang yang diiris
sembilu, di dalam tenggorokanku, bagai akan lenyap, semangat jiwa ragaku”
“Kecuali marupe’ kamu meninggalkan semua pantanganku, menjauhi semua pemaliku,
barulah aku menetap, penguat semangatku, untuk menetap di Barru”
“Jangan pula marupe’, menakari nyirumu, jangan engkau menurunkan, takaranmu
dari rumah, melayang semangatku, dan tersentak jiwa ragaku”
Sembah sujud berkata, isteri pabbicara :” Janganlah demikian We Datu, tuhan
kita pemilik semua di kedalaman (dasar laut), keturunan yang berdarah murni
(maddara takku), sebelah-menyebelah yang disembah. Kur semangatmu, segala
keingianmu La Puang, kusandari tak tergoyahkan, kusebut-sebut kemana aku pergi,
di kampung Barru”
Menjawab berkata, Datu Sangiangserri :” Syukurlah karena kamu mau, isteri
pabbicara, menyenangi diriku, dengarkan baik-baik ! nasehat petunjukku, jangan
sekali-kali !! engkau tak menghidupkan, apimu di dapurmu, juga jangan marupe’,
kamu kosongi periukmu, begitu pula tempat berasmu, tempat bakul berasmu, juga
marupe’! jangan kau kosongi tempayanmu, air yang kau inginkan, kamu hidupkan
pelita, segenggam panjangnya, pada malam jumat”
“Hai sekalian orang Barru, jangan menukarkan, saji dan sendokmu, di belanga dan
periukmu. Sebab kalau demikian marupe’! tidak mau berhati-hati, segala
pantangan wisesa, habislah aku dimakan ulat, juga bakalan aku jadi benir,
dimakan langau, dipatuk-patuk burung pipit, dimakan oleh tikus, dibelit aku
ular, Tak dapat lagi aku hadir (berhasil), apabila kamu tidak menyayangiku,
ketika aku turun di bumi, yang akan diwarisi oleh orang belakangan”
“Jangan juga marupe’ berbuat yang culas, jangan sekali-sekali ! hatimu tidak
jujur, mengambil yang bukan menjadi hakmu (milikmu), memakan sesuatu yang tidak
baik asalnya, memakan dengan menelan-nelan (berbunyi), di muka dapur. Yang aku
senangi, berkumpul semua semangatku, kalau kamu meninggalkan semua pantanganku,
sebaliknya yang paling kusakitkan, orang yang salah niatnya, terhadap anak
cucunya, begitu pula orang yang berbuat zina, tidak bakal berhasil padi”
“Kamu sekalian orang Barru, kalau benar kamu mau, senang pada pada diriku,
gembiraku tak terkira, karena engkau dapat marupe’, meninggalkan semua
pantanganku, sampai menyembah, di atas di Boting Langi, di bawah di Peritiwi”
Sembah sujud berkata, isteri pabbicara, dan orang yang banyak :” Tandailah
dengan baik, duduk (menatap) bergembira ria. Sebab menurut kata hatiku, di
dalam sanubariku, betapa gembiranya aku La Puang, sampaikanlah dengan jelas
!kabarkanlah kebaikan, larangan wisesae, dan pemali Sangiangserri, apa kata We
Tune’, Datu Sangiangserri”
“Engkau sekalian orang Barru, semua orang yang banyak, dengarlah kataku,
dengarlah dengan jelas ! adat istiadat Sangiangserri, ajarannya tadi, nenek
mangkau’ku. Apabila kamu menyiapkan kataku, dengarlah dengan jelas! Adat
istiadat Sangiangserri, ajarannya tadi, nenek mangkau’ku. Apabila kamu
menyiapkan aku, menyiapkan bibit padimu, duduklah menghadapi pelita, berjagalah
(maddoja) marupe’, juga semua gerakan hati sanubarimu (ati macinong), juga
ucapan-ucapanmu, juga pandangan matamu, musuhlah nafsumu, batasi amarahmu,
bendunglah air liurmu (keinginan), kemudian menghadap dengan baik, hatimu
kepada Tuhanmu, hatimu memohon rasa kasih (rahman), dari To Pabbare-baree,
sabarlah engkau dengan penuh kepasrahan, terhadap sesama dicipta.
“Engkau sekalian orang Barru, tutuplah tempat berasmu, jangan sekali-kali
kosong, beras pada bakulmu, kumpulkanlah semua takaranmu ! membereskan semua
sajimu, demikian pula sendokmu, hati-hati jangan sampai jatuh”
Jangan kasar mulut ! terhadap sesamamu manusia, jangan juga kamu melakukan !
berkumpul-kumpul berlebihan, pada sore hari, dan tengah malam. Jangan juga
marupe’! duduk berdempet-dempetan, di muka dapur, memperebutkan puntung kayu,
jangan bertengkar, pada subuh hari, pada pagi hari, jangan sekali-kali
bergemuruh, engkau memukul tempayan.
Hati-hatilah pelitamu, wisesa (bibit) yang kau persiapkan, tiga kali semalam,
engkau mengepulkan asap kemenyanmu, sirih lengkapmu We Tune’, Kudapati engkau
ribut, marah di rumahmu, pilulah jiwaku, tersengat jiwa ragaku, hilang
semangatku, tertegun sanubariku. Tidak jadi bibitmu, bibit yang kau persiapkan,
hayatilah dan laksanakanlah, pantangan wisesaku.
Apabila engkau sekalian, isteri-isteri di Barru, mendengar semua nasehat ,
menjauhi semua larangan, pantangan wisesae, mudah-mudahan engkau beruntung,
besar tak terhalang, hidup menyebarkan keturunan, semua bibit yang kamu tanam.
Apabila telah sampai, waktunya kami tuai, segenggam saja sehari, barulah kamu
ikat, kamu isi padimu, di tengah-tengah sawah, jangan sekali-kali kamu cadingi
! sebab itu dilarang, oleh nenek mangkau’ku.
Tidak baik dilakukan, barang yang di tuai malam, haram diisikan, pada tempat
beras, tidak mendatangkan (hasil), wisesa Sangiangserri.
Itulah yang kusampaikan kepadamu, isteri pabbicara, semua orang yang banyak,
tiga kali aku semalam, mengelilingi kampung, mencari perbuatan baik, baru aku
kembali, pada rumah tempat menetapku. Apabila kudapatkan, ketika menanjak naik
ke tangga, aku mendengar, mulut kasar, aku akan turun kembali, dan seterusnya
pergi membuang diri. Dan yang kupilih sebagai tempat menetap, adalah orang yang
sesuai dengan kata hatiku, sabar berpasrah diri, jujur dan hati-hati, terhadap
sesama manusia.
Jangan berselisih faham, sekeluarga dan sekampung, sebab aku terkaget-kaget, di
dalam sanubariku, hilang semangatku. Demikianlah moga-moga engkau pengasih,
seiya sekata, terhadap seisi kampung, sampaikanlah dan nasehatlah pula, semua
penduduk Barru”
Sembah sujud berkata, isteri pabbicara : ” Kur semangat jiwamu, keturunan opu
yang disembah, sebelah menyebelah berdarah murni, anak yang pantang di
durhakai, Datu Sangiangserri, semua padi yang banyak, Datu Gandum, Datu Jagung
(baralle), Datu Meong Paloe. Akan ku usahakan, menghindari semua laranganmu,
menjauhi semua pemalimu, karena rasa pengasihmu, mau menetap di Barru, sampai
bersama mati, bersama ke akhirat (ri maje), apa yang menjadi keinginanmu We
Raja, dan perkataan mu We Datu”
Menjawab berkata, Datu Sangiangserri :”Baiklah kalau begitu katamu, hanya
langit di atasmu, ucapan rendah dirimu kasihanilah aku, persiapkanlah dengan
baik ! naik ke rakkeyang, rakkeyang istanaku”
Berdirilah merangkak-rangkak, isteri pabbicara. Diminyakinya cepat, dihambur
cucubanna, dan diberinya kur sumange’, di dupai berangkat, dan dikipaskan
dengan La Wollo, dan yang dilewati naik, Datu Sangiangserri, semua padi yang
banyak, Datu Meong Paloe. Sambung-menyambung kilat, dan bergemuruh guntur, dan
serentak berdirilah, semua padi yang banyak, diantar oleh angin yang ribut, di
bawa-bawalah oleh petir, di arak oleh guntur geledek, memegang pada kilat itu,
bergenggam pada guntur, diarak dengan tenang, oleh teman-temannya, sampai
terlihat duduk dengan tenang, di rakkeyang.
Belum hilang lelahnya, Datu Sangiangserri, ia lalu berpaling dan berkata,
kepada teman-temannya :” Sudah tujuh malam We Tune’, ketika tibaku dari langit,
lalu aku terangkat, naik di rakkeyang, rakkeyang istanaku, belum pernah aku
mendengar, pembicaraan yang berselisih, di dalam kampung, bakal menetaplah aku.
Demikianlah ketentuan, berakar menyebarkan keturunan, memberi kehidupan orang
bumi. Apabila ia mengabadikan sifat-sifat baiknya, kata-kata lemah lembutnya,
seiya sekatanya, isteri pabbicara, semua orang yang banyak, maka
berkepanjanganlah aku bersamanya, duduk bergembira ria dalam suka cita.
Kalau tidak ada halangan, disetujui, langitku (Tuhannya di langit), dan
diliputi oleh Peritiwi (Tuhannya di Peritiwi), nenek mangkau’ku, batara yang
melahirkanku, aku berniat menaikkan, wisesaku pada tiap rumah, di kampung
Barru, terhadap semua orang yang menyenangiku”
Serentak sama naiklah, isteri pabbicara, semua orang yang banyak (rakyat),
begitu mendengar ucapan, Datu Sangiangserri, keturunan pajunge. Sembah sujud
secepatnya, menghamburkan cucubanna, sembari menaburkan bertih berkata :”Kur
jiwa semangatmu, keturunan opu mangkau’, anak yang pantang di durhakai,
sangiang yang berdarah murni, itulah semua sesamamu, karena keinginanmu
menetap, di rakkeyang istanamu, ketentuan menetaskan keturunan, memberi
kehidupan orang bumi. Ku panggil semuanya, penduduk Barru, yang mau berpantang,
dan menjauhi semua, semua pesan-pesan We Raja, Datu Sangiangserri”
“Hai sekalian orang Barru, janganlah menampung, orang yang tidak baik
perbuatannya, engkau semua pabbicarae, berbicaralah dengan jujur, sebab tidak
baik jadinya, bisesa Sangiangserri (bibit padi), yakinilah semua ! petunjuk dan
nasehatnya, pantangan-pantangan dari langit ! kubawa turun (ke bumi)
menjelmakan diri di dunia. Ketahui dan yakinilah ! pabbicara (hakim) yang
jujur, nanti kamu menjalani, benarkanlah sesuatu yang salah, barulah engkau
menyalahkannya. Hadirkanlah saksinya (sabbi), saksi dari kedua belah pihak, dan
alat pengukurmu telah mengiya, hatimu telah membenarkan, di dalam sanubarimu,
barulah engkau memutuskan. Begitulah semua bicara (keputusan), benarlah sesuatu
yang memang benar-benar benar.
Dengarkanlah baik-baik ! bicaranya sebelah-menyebelah, (saksi kedua belah
pihak), jangan hanya sebelah saja, kau dengan bicaranya, bakalan engkau makan,
perbuatan yang engkau perbuat, orang yang diadili”, itulah kata We Datu.
Kalau engkau tegas, berbicara dengan jujur, maka melimpah ruahlah wisesamu,
berikut pohon-pohonan yang lain, dan juga berkurang penyakitnya. Itulah
kusampaikan kepadamu, pabbicara yang jujur, jangan sekali-sekali engkau
mengambil untung ! juga jangan menerima sogok (menerima suap), apabila engkau
berbicara (mengadili), berbuat jujurlah ! jangan menerima marupe’ harta yang
tidak jujur (tidak halal), demikian pula yang datang malam (curian), akan
merajalela penyakit, tidak berhasil padi, berjatuhan buahnya, pohon-pohon yang
dimakan.
Hilang pula semua ikan, semua isi sungai, apabila tidak baik, putusan bicara
(keadilan/hakim). Tidak baik akibatnya di kemudian hari, merajalela penyakit,
salah peraturan tuhanmu (tidak berhasil padi), semuanya menjadi padang ilalang,
wisesa Sangiangserri.
Apabila demikian, benar-benar bicara itu (keputusan yang adil), akan berbicara
dengan sendirinya padi-padimu itu, ramai berbunga, semua tanaman-tanamanmu,
akan mudah semuanya, semua yang memberi kehidupan, semua tanam-tanaman, apabila
engkau menjauhi semua pantangan, pesan-pesannya, puang nenek mangkau’ku, batara
yang melahirkanku, Opu Batara Luwu .
Yakinilah engkau semua ! pada perkataan yang baik, keturunan I La Patoto
(Topalanroe), yang menetas di bambu betung (Tellang pulawenge), sekianlah
cerita-ceritanya, Datu Sangiangserri, berikut sebut-sebutannya, Datu Meong
Paloe (Rahman, N,1990)
Nilai dermawan dan pengasih itulah yang mendasari sikap dan perilaku yang suka
memberikan pertolongan atau jaminan sosial seperti yang ada dalam cerita Meong
Palo Karellae (MPK) : ”Mengantar orang yang bepergian, menjemput orang yang
datang, memberi makan orang yang lapar, memberi minum orang yang haus,
menyarungi orang yang telanjang, menerima orang yang susah, menampung orang
yang terdampar, menerima orang yang dibenci, dan menerima semua orang yang
diperlakukan sewenang-wenang oleh sesama manusia” (M. Tang,2007). Sifat-sifat
diatas merupakan sifat yang terpuji bila ditinjau dari segi ilmu agama yang
mana mencintai sesama hamba Allah adalah lebih terpuji dan perilaku tersebut
menumbuh-kembangkan sifat kedermawanan (malabo) tidak kikir (dena masekke)
dengan perilaku ini membuat seseorang mempunyai kelebihan tersendiri yang
jarang diketemukan pada orang kebanyakan karena dengan keikhlasan membuat
seseorang merasa tenang dan tawaddu (rendah diri) kepada Allah. Dulu pada masa
kerajaan di Sulawesi Selatan masih ada orang-orang yang mempunyai perilaku
seperti ini, namun setelah masa orde reformasi perilaku seperti ini sudah
jarang ditemukan.
Mengenai pentingnya menjaga padi sebagai sumber bantuan, berulangkali
ditekankan perlunya menjaga padi dari serangan hama : ulat, nango, burung
pipit, tikus dan ular. Sesudah terjaga ari serangan hama, ditekankan lagi
perlunya memperlakukan padi secara baik (pasca panen), yaitu jangan sampai
terhambur tanpa dipungut, jangan dibiarkan dimakan ayam dan tikus. Sesudah jadi
nasi diingatkan lagi jangan sampai dibiarkan jatuh berhamburan tanpa dipungut.
Biar satu biji nasi yang jatuh, juga harus dipungut.
Selamat sejahteranya, selamat yang punya sure’ (naskah) selamat pula orang yang
menulisnya, kasihan dan selamat
( 1 Sya’ban 2008)
DAFTAR PUSTAKA
Kombie, A.S. 2003. Akar Kenabian Sawerigading, Parasufia, Makassar
Mattulada.1995. Latoa, Hasanuddin University Press, Makassar.
Morris D.F Van Braam, 2007. Kerajaan Luwu, toACCAe, Makassar.
M. Tang.2007. Kongres Bahasa-Bahasa Daerah Sulawesi Selatan I Tahun 2007,
Panitia Penyelenggara, Makassar.
Rahim.Rahman.1985. Nilai-Nilai Utama Kebudayaan Bugis, LEPHAS, Makassar.
Rahman,N. 1990. Episode Meong Palo Bolonge Dalam La Galigo (Satu Kajian
Filologi Sastra Bugis Klasik), Pascasarjana Universitas Padjadjaran, Bandung
oleh : Ir. H. Abdu Samad H. A. Umar, M.Si
(Teluk Bone)