Senin, 09 April 2012

makalah PENGARUH MASYARAKAT TERHADAP PENDIDIKAN


PENGARUH MASYARAKAT TERHADAP PENDIDIKAN



 









Makalah ini Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
Sosiologi Pendidikan  Pada Jurusan Tarbiyah Prodi MPI
Kelompok 1-2 Semester VII


Oleh:



HARIDAS
08.3T.0101



SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
WATAMPONE
2012

KATA PENGANTAR

            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas taufik dan perkenaan-Nya makalah ini dapat terselesaikan sekalipun jauh dari kesempurnaan. Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah mengantarkan kita dari mahkluk yang jahiliyah menuju mahkluk yang berfikir. Nabi sebagai sang Revolusioner sejati bagi umat islam.
            Selanjutnya, makalah yang ada dihadapan pembaca merupakan wahana pembelajaran dalam rangka memperkaya referensi dan acuan, bacaan dalam melakukan proses belajar mengajar.
            Sekalipun kehadiran makalah ini agak jauh dari kesempurnaan, namun bagaimanapun keberadaan makalah ini perlu disikapi sebagai bagian dari usaha penulis dalam upaya memberikan kontribusi positif bagi kelangsungan pembelajaran ini terkhusus mengenai sosiologi pendidikan.
            Dalam penyusunan makalah ini, tentu saja tidak terlepas dari berbagai pihak, terutama kepada penulis yang telah banyak merelakan waktu dan tenaganya. Juga kami telah mensistematiskan tulisan-tulisan yang diambil dari beberapa literatur untuk dimasukkan dalam makalah ini.
            Akhirnya kepada yang maha kuasa kami berharap dan berdoa, semoga memberikan balasan yang layak kepada semuanya, serta mudah-mudahan makalah ini dapat bermamfaat bagi kita semua, Amin...!
            Wallahul muafieq Ila Aqwamith Thorieq
            Assalamu Alaikum Wr. Wb
                                                                                    Watampone, 10 Januari 2012
                                                                                                                       
                                                                                                    Penulis


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR                                                                                               i
DAFTAR ISI                                                                                                               ii
BAB I: PENDAHULUAN                                                                                         iii
A.    Latar Belakang                                                                                            1
B.     Rumusan Masalah                                                                                       1
C.     Tujuan Penulisan                                                                                         2
BAB II: PEMBAHASAN                                                                                          3
A.    Siklus Belajar Individu di Masyrakat                                                         3
B.     Fungsi- Fungsi Sekolah                                                                              9
C.     Perubahan Sosial dan Pendidikan                                                             16
D.    Pendidikan dan Pembaharuan Masyarakat                                               19
BAB III: PENUTUP                                                                                                21
A.    Simpulan                                                                                                   21
B.     Saran                                                                                                         22
DAFTAR PUSTAKA






BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
             Pendidikan merupakan tumpuan harapan bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia dan menjadi sarana bagi pembetukan intelektualitas, bakat, budi pekerti, dan akhlak, serta kecakapan peserta didik dalam proses pendidikan. Atas pertimbangan inilah selayaknya semua pihak perlu memberikan perhatian secara maksimal terhadap bidang pendidikan.
             Dunia pendidikan dimasa depan memang dituntut untuk lebih dekat lagi dengan realitas dan permasalahan hidup yang tengah menghimpit masyarakat. Ungkapan School is mirror society (sekolah lembaga pendidikan adalah cermin masyarakat) setidaknya benar-benar mewarnai proses pendidikan yang sedang berlangsung. Sebagai konsekuensinya, lembaga masyarakat harus ikut berperan aktif dalam memecahkan problem social,
             Warga masyarakat akhir-akhir ini juga diharapkan problem dapat mengatasi problem dan perlu adanya perhatian khusus dalam pendidikan dan masyarakat, karena 95% masyarakat menunjang perkembangan peserta didik baik positif atau negatifnya.
Para Sosiolog memandang betapa pentingnya pengetahuan tentang proses sosial, mengingat bahwa pengetahuan perihal struktur masyarakat saja belum cukup untuk memperoleh gambaran yang nyata mengenai kehidupan bersama manusia. Bahkan Tamutso Shibutani menyatakan bahwa Sosiologi mempelajari transaksi-transaksi sosial yang mencakup usaha-usaha bekerja sama antara para pihak, karena setiap kegiatan manusia di dasarkan pada gotong royong.[1]
B.     Rumusan Masalah
        Berasal dari latar balakang diatas maka dapat kami rumuskan maslah sebagai berikut:
1. Apakah peranan masyarakat dalam proses pendidikan dan fungsi fungsi       sekolah?
2.  Bagaimana perubahan sosial dalam pembalajaran masyarakat?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulis menyusun makalah ini yaitu untuk membahas masalah peranan masyarakat terhadap pendidikan dan fungsi-fungsi sekolah dan perubahan sosial dalam pembelajaran masyrakat agar dapat menjadi acuan dalam pembelajaran dan semoga pembaca dapat memetik pengetahuan yang bermanfaat demi terciptanya pendidikan yang lebih baik.




















BAB II
PEMBAHASAN

A. Siklus Belajar Individu di Masyarakat
Secara singkat pendidikan merupakan produk dari masyarakat, karena apabila kita sadari arti pendidikan sebagai proses transmisi pengetahuan, sikap, kepercayaan, keterampilan dan aspek-aspek kelakuan lainnya kepada generasi muda maka seluruhupaya tersebut sudah dilakukan sepenuhnya oleh kekuatan masyarakat.
Hampir segala sesuatu yang kita pelajari merupakan hasil hubungan kita dengan orang lain baik dirumah. Sekolah, tempat permainan, pekerjaan dan sebagainya. Wajar pula apabila segala sesuatu yang kita ketahui adalah hasil hubungan timbal balik yang ternyata sudah sedemikian rupa dibentuk oleh masyarakat kita.
Bagi masyarakat sendiri hakikat pendidikan sangat bermanfaat bagi kelangsungan dan proses kemajuan hidupnya. Agar masyarakat itu dapat melanjutkan eksistensinya, maka kepada anggota mudanya harus diteruskan nilai-nilai, pengetahuan, keterampilan dan bentuk tata perilaku lainnya yang diharapkan akan dimiliki oleh setiap anggota. Setiap masyarakat berupaya meneruskan kebudayaannya dengan proses adaptasi tertentu sesuai corak masing-masing periode jaman kepada generasi muda melalui pendidikan, secara khusus melalui interaksi sosial dengan demikian pendidikan dapat diartikan sebagai proses sosialisasi.[2]
Dalam pengertian tersebut, pendidikan sudah dimulai semenjak seorang individu pertama kali berinteraksi dengan lingkungan eksternal di luar dirinya, yakni keluarga. Seorang bayi yang baru lahir tentunya hidup dalam keadaan yang tidak berdaya sama sekali. Menyadari hal demikian sang ibu berupaya memberikan segala bentuk curahan kasih sayang dan buaian cinta kasih melalui air susunya, perawatan yang lembut serta gendongan yang begitu mesra kepada si bayi. Begitulah proses tersebut berlangsung selama si bayi masih tetap memerlukan pertolongan intensif dari manusia lain. Sampai pada umur lima tahun bayi itu tumbuh dan berkembang dengan sehat di dalam mahligai cinta kasih perpaduan sepasang manusia yang menjadi orang tuanya.[3]
Manusia adalah merupakan makhluk-makhluk hidup yang lebih sempurna bila dibandingkan dengan makhluk-makhluk hidup yang lain. Akibat dari unsur kehidupan yang ada pada manusia, manusia berkembang dan mengalami perubahan-perubahan, baik perubahan-perubahan dalam segi fisiologik maupun perubahan-perubahan dalam segi psikologik.[4]
Dari sini bisa kita sadari selain anggota keluarga baru itu belajar mengetahui, mempelajari serta melakukan berbagai reaksi terhadap stimulus dari dunia barunya maka bisa kita cermati pula bahwa sang bayi juga memahami esensi nilai-nilai kemanusiaan dari keluarganya dalam bentuk gerak tubuh, belajar berbicara, tertawa serta semua tindak tanduk yang menggambarkan bahwa jiwa raganya telah terpaut erat oleh belaian kasih sayang manusia dewasa.[5]
Ilustrasi di atas hanyalah sekelumit kecil dari siklus belajar individu di dalam masyarakat. Proses tersebut berlangsung pula ketika kita menjadi manusia dewasa. Apabila kita memenuhi kewajiban sebagai saudara laki-laki, suami atau warga negara
serta menjalankan hal-hal lain yang tertanam kuat dalam benak kesadaran kita, itu berarti kita melakukan tugas yang sudah ditentukan secara eksternal oleh hukum-hukum kodrat sosial (droit)dan kebiasaan-kebiasaan yang berkembang begitu alamiah dari lingkungan sosial. Kewajiban itu muncul bukan hasil dari proses pemaksaan eksternal yang mekanistis melainkan selalu diikuti oleh gejala resiprositas individu dengan lingkungan luarnya sehingga pada tahap akhirnya masyarakat telah menghasilkan ribuan atau bahkan jutaan manusia yang tunduk lahir batin dengan ketentuan-ketentuan kolektif.
Selain itu, dimensi sejarah juga berbicara serupa.Ratusan tahun silam pendidikan berjalan beriringan dengan struktur dan kebutuhan sosial masyarakat setempat. Bagi masyarakat sederhana yang belum mengenal tulisan maka para pemuda memperoleh tranformasi pengetahuan lewat media komunikasi lisan yang berbentuk dongeng, cerita-cerita dari orang tua mereka. Selain itu, pada siang hari pemuda-pemuda ini harus selalu sigap dan tanggap mempelajari, mencermati dan belajar mengaplikasikan teknik-teknik mencari nafkah yang dikembangkan oleh para orangtua baik itu menangkap ikan, memanah, beternak, berburu dan sebagainya.[6]
 Dalam cerita-cerita lisan itu tersirat pula adat dan agama, cara bekerja dan cara bersosialisasi yang berkembang di masyarakatnya. Tidak mengherankan apabila cerita yang sudah turun temurun diwariskan itu dianggap sebagai sesuatu yang bernilai suci. Sejarah, adat istiadat, norma-norma bahkan cara menangkap ikan atau berburu tidakhanya dipandang sebagai hasil pekerjaan manusia semata, tetapi memiliki makna sakral yang patut disyukuri dengan beberapa persembahan serta upacara-upacara ritual. Begitulah perjalanan pendidikan anak manusia telah berlangsung organis sesuai dengan iklim sosialnya. Sedangkan keperluan khusus untuk mendirikan sebuah lingkungan perguruan yang mapan dimulai ketika bangsawan-bangsawan feodal membutuhkan prajurit-prajurit serta punggawa kerajaan yang tangguh demimem pertahankan harta kekayaan milik sang raja. Mereka secara khusus dididik dalam lingkungan tersendiri agar memiliki kecakapan dan keahlian tertentu sesuai dengan kebutuhan system sosial masyarakat aristokrasi-feodal. Mereka-mereka ini menjadi ujung tombak pelaksana kekuasaan kerajaan di hadapan ribuan rakyat jelata yang memang dibikin bodoh. Melihat situasi demikian, wajar apabila jaman ini predikat golongan terdidik hanya bisa dimiliki oleh sanak saudara sang raja serta kaum-kaum agamawan yang telah memperkuat hegemoni kekuasaannya.
Namun seiring dengan bertambahnya umur bumi ini maka kisah pergulatan karakter masyarakat tersebut mulai bergeser selaras dengan kecenderungan spirit jaman yang sudah berubah. Bagaimanapun juga penderitaan rakyat yang menjadi bahan bakar perputaran gerigi kehidupan feodal telah mencapai titik klimaksnya. Kekuasaan para raja yang bersenyawa dengan kekuatan gereja secara perlahan-lahan mulai runtuh. Dimulai dengan penentangan sejumlah ilmuwan yang mampu membuktikan kesalahan dogma-dogma teologis tentang hukum alam. Berbagai peristiwa lain juga memiliki andil besar dalam menentukan lahirnya semangat jaman yang semakin konsekuen menghargai arti kebebasan,baik itu reformasi gereja oleh Martin Luther King, revolusisosial di beberapa tempat yang secara simbolis telah dipresentasikan oleh gelora heroisme revolusi Perancis pada sekitar pertengahan abad ke-18, serta meningkatnya hasil pemikiran- pemikiran ilmiah para ilmuwan humanis yang mampu diterjemahkan dengan penciptaan teknik-teknik peralatan industri. Praktis kecenderungan fakta sosial demikian secara perlahanlahan mampu mengubah inti kebijakan masyarakat yang berhubungan dengan pengajaran. Selain karena meluapnya industriindustri manufaktur, pengaruh penerapan demokrasi, ditemukannya beberapa wilayah baru yang bisa dieksploitasi kekayaan alamnya serta peningkatan diferensiasi struktural maka masyarakat Eropa Barat harus bisa menyediakan kelompok manusia dalam jumlah massal yang memiliki kemampuan teknis untuk menjalankan lahan-lahan pekerjaan baru yang begitu kompleks dan cukup rumit. Oleh sebab itulah beberapa wilayah Eropa Barat mulai menerapkan sistem pendidikan modern yang memanfaatkan mekanisme organisasi formal dalam mengelola proses pendidikannya.Itulah cuplikan kecil argumentasi sederhana tentang renikrenik karakter fungsi pendidikan di masyarakat.[7] Melihat alur perkembangannya maka berbagai jenis konfigurasi pendidikan diatas sesuai dengan konsep yang diutarakan oleh RandallCollins,1979  tentang tiga tipe dasar pendidikan yang hadir di seluruh dunia,[8] yakni ,
1. Pertama jenis pendidikan keterampilan dan praktis, yakni pendidikanyang dilaksanakan untuk memberikan bekal keterampilan maupun kemampuan teknis tertentu agar dapat diaplikasikankepada bentuk mata pencaharian masyarakat. Jenispendidikan ini dominan di dalam masyarakat yang masih sederhana baik itu berburu  dan meramu, nelayan atau jugamasyarakat agraris awal.
2. Pendidikan kelompok status, yaitu pengajaran yang diupayakan untuk mempertahankan prestise, simbol serta hak-hak istimewa (privilige) kelompok elit dalam masyarakat yang memiliki pelapisan sosial. Pada umumnya pendidikan ini dirancang bukan untuk digunakan dalam pengertian teknis dan sering diserahkan kepada pengetahuan dan diskusi badan-badan pengetahuan esoterik. Pendidikan ini secara luas telah dijumpai dalam masyarakat-masyarakat agraris dan industri.
3. Tipe pendidikan birokratis yang diciptakan oleh pemerintahan untuk melayani kepentingan kualifikasi pekerjaan yang berhubungan dengan pemerintahan serta berguna pula sebagai sarana sosiolisasi politik dari model pemerintahan kepada masyarakat awam. Tipe pendidikan ini pada umumnya memberi penekanan pada ujian, syarat kehadiran, peringkat dan derajat.[9]
Demikianlah tipe-tipe pendidikan tersebut telah mewarnai corak kehidupan masyarakat. Pada dasarnya ketiga jenis pendidikan di atas selalu hadir dalam setiap masyarakat hanya saja prosentasi penerapan salah satu karakter pendidikan berbanding searah dengan model masyarakat yang terbentuk.Akan tetapi tidak dapat dipungkiri pula ternyata gelombang sejarah dunia juga menentukan model konfigurasi masyarakat dunia secara global dan hal ini juga memiliki pengaruh bagi iklim pendidikan. Pengaruh modernisasi di berbagai sektor kehidupan telah melahirkan karakter pendidikan yang hampir sama meskipun memiliki ciri khas tertentu di tiap-tiap negara pada akhir abad ke 20 an.Sebagaimana penuturan Tilaar bahwa dalam masyarakat yang sudah maju, proses pendidikan sebagian dilaksanakan dalam lembaga pendidikan yang disebut sekolah dan pendidikan dalam lembaga-lembaga tersebut merupakan suatu kegiatan yang lebih teratur dan terdeferensiasi. Inilah pendidikan formal yang biasa dikenal oleh masyarakat sebagai “schooling”.[10]
Untuk melihat latar belakang dari menyeruaknya situasi sosial dunia pendidikan demikian, pada kesempatan lain Randall Collins dalam karya Sanderson (1993: 429) juga mengungkapkan analisis fungsional untuk menjelaskan ekspansi pendidikan modern sebagai akibat dari lahirnya kebutuhan-kebutuhan kualifikasi mahir bagi corak masyarakat modern. Pendidikan dilihat memiliki kontribusi positif demi menjalankan roda perekonomian serta putaran gerigi-gerigi mesin industri masyarakat pendukungnya.Prinsip-prinsip tersebut antara lain yaitu,
1. Persyaratan pendidikan dari pekerjaan-pekerjaan dalam masyarakat industri yang terus meningkat sebagai akibat dari adanya perubahan teknologi yang memiliki dua aspek yaitu,
a.     Proporsi pekerjaan yang memerlukan keterampilan yangrendah berkurang sementara proporsi yang memerlukan keterampilan tinggi bertambah.[11]
b. Pekerjaan-pekerjaan yang sama terus meningkatkan persyaratan keterampilannya.
2. Pendidikan formal memberi latihan yang diperlukan kepada orang-orang untuk mendapat pekerjaan yang berketerampilan lebih tinggi.
3. Sebagai akibat dari yang disebut di atas, persyaratan pendidikan untuk bekerja terus meningkat dan semakin banyak orang yang dituntut untuk menghabiskan waktu yang lebih lama di sekolah.
Dari analisis tersebut kiranya cukup jelas pemahaman kita apabila masyarakat Indonesia semenjak kemerdekaannya tidak pernah lepas dari kehidupan pendidikannya. Dengan upaya penerapan sekolah secara merata bagi rakyat di seluruh penjuru tanah air dapat kita rasakan manfaat besarnya dalam membantu menopang ekskalasi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Baik itu wajah materiil hasil pembangunan fisik wilayah Negara kita maupun peningkatan pola pikir manusia Indonesia yang semakin cerdas menjadi bukti kuat prestasi pendidikan kita.[12]Bisa disimpulkan pula bahwa alam reformasi yang kita rasakan saat inimerupakan salah satu aspek jerih payah kerja sekolah-sekolah diIndonesia (termasuk perguruan tinggi) demi mencapai cita-citarakyat Indonesia.
Dalam konteks sosial, pendidikan juga memiliki fungsi, perandan kiprah lain yang berkorelasi dengan kekuatan-kekuatan kolektif yang sudah mapan. Tidak hanya puas dalam kondisi demikian pendidikan juga memberikan andil menterjemahkan nilai-nilai baru yang tumbuh akibat proses pergulatan sejarah dalam wujud emansipasi integrasi dengan sistem dan struktur sosialnya. Sehingga dengan begitu masyarakat tidak pernah kering dari dinamika perubahan dan evolusi sosialnya.[13]
B. Fungsi-fungsi Sekolah
Secara mendasar sekolah bertugas untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang diperlukan seseorang agar ia dapat menapaki perjalanan kedewasaannya secara utuh dan tersalurkannya bakat-bakat potensial yang ia miliki. Namun dalam konteks sosial pada kenyataannya sekolah mempunyai beberapa fungsi yakni:
1. Sekolah mempersiapkan seseorang untuk mendapat suatu pekerjaan
Apabila kita meninjau secara menyeluruh proses perjalanan pendidikan sepanjang masa, maka kita segera melihat kenyataan bahwa kemajuan dalam pendidikan beriringan dengan kemajuan ekonomi yang secara bersamaan melaju pesat dengan prosesevolusi teknik berproduksi masyarakat.Dalam masyarakat bercorak agraris yang stabil pendidikan menyangkut penyampaian keterampilan-keterampilan, keahlian,adat istiadat serta nilai-nilai.
Sementara itu pada sistem ekonomi masyarakat maju, sistem pendidikan tentunya mempunyai kecenderungan untuk memberikan pengetahuan dalam jumlah yang terus bertambah kepada kelompok-kelompok manusia dalam jumlah besar, karena proses-proses produksi yang lebih seksama menghendaki pekerja memiliki kualifikasi keahlian yang tinggi. Oleh sebab itu penerapan sistem sekolah bermaksud untuk memberikan kompetensi-kompetensi jenis keahlian dalam lahan pekerjaan yang terbentang luas kompleksitasnya. Anak yang menamatkan sekolah diharapkan sanggup melakukan pekerjaan sesuai dengan kebutuhan dunia pekerjaan atau setidaknya mempunyai dasar untuk mencari nafkah. Makin tinggi pendidikan makin besar harapannya memperoleh pekerjaan yang layak dan memiliki prestise tinggi. Dengan ijasah yang tinggi seseorang dapat memahami dan menguasai pekerjaan kepemimpinan atau tugas lain yang dipercayakan kepadanya.
2. Sebagai alat transmisi kebudayaan
Fungsi transmisi kebudayaan masyarakat kepada anak menurut Vembriarto (1990) dapat dibedakan menjadi dua macam,yaitu (1) transmisi pengetahuan & keterampilan, dan (2) transmisi sikap, nilai-nilai dan norma-norma. Transmisi pengetahuan ini mencakup pengetahuan tentang bahasa, sistem matematika, pengetahuan alam dan sosial serta penemuan-penemuan teknologi. Dalam masyarakat industri yang kompleks, fungsi transmisi pengetahuan tersebut sangat penting sehingga proses belajar di sekolah memakan waktu lebih lama, membutuhkan guru-guru dan lembaga yang khusus. Dalam arti sempit transmisi pengetahuan dan keterampilan itu berbentuk vocational training. Di masyarakat Jawa, ayah mengajarkan kepada anaknya cara mempergunakan cangkul serta peralatan pertanian lain secaraintensif sampai sang anak memahami teknik-teknik tertentu membudidayakan tanaman pangan yang sudah ratusan tahun dikembangkan oleh nenek moyang pendahulunya. Sementara disekolah teknik, anak belajar bagaimana caranya memperbaiki mobil.
Dalam kategori transmisi pengetahuan dan keterampilan fungsi dari sekolah modern tidak berbeda jauh dengan penerapan pendidikan tradisional yang dilakukan oleh bermacam-macam suku bangsa semenjak ratusan tahun silam.Hanya saja sekolah memiliki perangkat penataan serta organisasi sumber daya yang lebih sistematis dan terpadu dalam penyelenggaraan pendidikannya. Namun tak dapat dipungkiri output pendidikan juga menjaminkualitas yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Anak masyarakat Jawa belajar menjadi petani yang baik sesuai dengan tuntutan masyarakatnya sementara di era modern ini sekolah dapat menghasilkan ratusan tenaga terampil sesuai dengan spesifikasi keahliannya.
Dari segi transmisi sikap, nilai-nilai dan norma-norma masing-masing lembaga dalam konteks karakter sosiokultural juga tidak bisa dipungkiri peran dan fungsinya. Pemuda-pemuda dari masyarakat Jawa yang masih tradisional harus mengikuti dengan cermat model-model penggemblengan spiritual di kala mereka akan menginjak dewasa melalui lembaga-lembaga pendidikan seperti padepokan, pondok pesantren dan sejenisnya yang tumbuh subur dalam perjalanan kebudayaan masyarakat setempat. Wujud keberadaan lembaga tersebut merupakan bukti tentang kiprah peranan lembaga pendidikan dalam mengupayakan terjaminnya transformasi nilai-nilai dan norma yang senantiasa dijunjung tinggi.
Sementara itu, dalam masyarakat moderndi sekolah, anak tidak hanya mempelajari pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga sikap, nilai-nilai dan norma-norma.Sebagian besar sikap dan nilai-nilai itu dipelajari secara informal melalui situasi formal di kelas dan di sekolah. Melalui contoh pribadi guru, isi cerita buku-buku bacaan pelajaran sejarah dan geografi serta situasi lingkungan sekolah anak mempelajari sikap,nilai-nilai dan norma-norma masyarakat.
3. Sekolah mengajarkan peranan sosial
Pendidikan diharapkan membentuk manusia sosial yang dapat bergaul dengan sesama manusia sekalipun berbeda agama,suku bangsa, pendirian dan sebagainya.Ia juga harus dapat menyesuaikan diri dalam situasi sosial yang berbeda-beda.
Kalau diselidiki, tentu akan ditemukan bermacam-macam alasan lain mengapa orang tua menyekolahkan anaknya. Misalkan menyekolahkan anak gadis sampai ada yang meminangnya, atau menyerahkan anaknya ke dalam pengawasan guru karena lebih sulit mengurusinya sendiri di rumah dan sebagainya.
4. Sekolah menyediakan tenaga pembangunan
Bagi negara-negara berkembang, pendidikan dipandang menjadi alat yang paling ampuh untuk menyiapkan tenaga produktif guna menopang proses pembangunan. Kekayaan alam hanya mengandung arti bila didukung oleh keahlian. Maka karena itu manusia merupakan sumber utama bagi negara. Menurut analisis Faisal dan Yasik (1985) sepanjang dasawarsa 60-an, dunia pendidikan memiliki andil besar dalam membantu proyek negara untuk bangkit melakukan pembangunan di segala bidang. Persekolahan di kala itu, menjadi pusat perhatian dan dambaan para perencana yang mengupayakan perubahan perubahan besar, baik dalam bidang ekonomi maupun sosial,menjadi pusat perhatian para politisi yang berusaha membangun semangat kebangsaan, serta menjadi kepentingan wargamasyarakat yang berharap menemui peningkatan kesejahteraan hidupnya. Di awal-awal dasawarsa 60-an ada suatu keyakinan kuat dari seluruh komponen masyarakat tentang urgensi lembaga pendidikan bagi proses modernisasi dan industrialisasi. Sistem pendidikan dipandang sebagai penghasil tenaga-tenaga terampil dan juga pengetahuan baru yang dibutuhkan bagi perkembangan teknologi dan ekonomi.Sistem pendidikan, juga dianggap berandil besar dalam menanamkan disiplin, sikap dan motivasi sumber daya manusia guna menopang perkembangan industrialisasi.
Dalam hubungan ini, modal manusiawi dianggap jauh melebihi pentingnya modal-modal fisik apapun juga; bahkan bagi para ahli ekonomi yang agresif sampai menunjukkan perbedaan signifikansi modal dalam wujud angka-angka presentase. Merekam ini memiliki keyakinan kuat bahwa orang-orang terdidik begitu produktif dalam melaksanakan tugas pekerjaan, tanggap terhadap tuntutan keterampilan baru, serta mampu menunjukkan loyalitas yang lebih tinggi terhadap dunia pekerjaannya. Inilah salah satu bukti dari kiprah pendidikan di Indonesia pada waktu segenap rakyat dan lapisan masyarakat memiliki hajat besar untuk membangun negaranya.
5. Sekolah membuka kesempatan memperbaiki nasib
Semenjak diterapkannya sistem persekolahan yang bias dinikmati secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat diseluruh penjuru tanah air maka secara otomatis telah mendobrak tembok ketimpangan sosial masyarakat feodal dan menggantinya dengan bentuk mobilitas terbuka. Sekolah menjadi tempat yang paling strategis untuk menyalurkan kebutuhan mobilitas vertical dalam kerangka stratifikasi sosial masyarakat.[14]
Perubahan ini cukup menyeruak karena di dalam tatanan sosialnya telah mengalami pergeseran kriteria-kriteria pekerjaan yang secara tidak langsung mengubah kontruksi susunan masyarakat secara drastis. Bagi orang-orang yang ingin menapaki karier hidup yang lebih prestisius maka mereka cukup mendaftarkan diri ke lembaga sekolah dan berproses secara serius sampai pada akhirnya menerima bukti kelulusan. Bisa dijamin ijasah yang didapat dari sekolah tersebut lebih diperhatikan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dari pada gelar bangsawan yang sudah mulai
usang. Melalui pendidikan orang dari golongan rendah dapat meningkat ke golongan yang lebih tinggi.[15]
Banyak pemuda-pemuda yang berhasil menapaki jenjang karir hidupnya melalui sekolah meskipun memiliki latar belakang status yang tergolong rendah. Oleh karena itu orang tua berusaha menyekolahkan anaknya dengan harapan akan dapat memperoleh hasil yang memuaskan bagi peningkatan derajat dan status keluarga di kemudian hari.
6. Menciptakan integrasi sosial
Dalam masyarakat yang bersifat heterogen dan pluralistik,terjaminnya integrasi sosial merupakan fungsi pendidikan sekolah yang cukup penting. Masyarakat Indonesia mengenal bermacam macam suku bangsa masing-masing dengan adat istiadatnya sendiri, bermacam-macam bahasa daerah, agama, pandangan politik dan lain sebagainya. Dalam keadaan demikian bahaya disintegrasi sosial sangat besar. Sebab itu tugas pendidikan sekolah yang terpenting adalah menjamin integrasi sosial.Untuk menjamin integrasi sosial itu, caranya ialah sebagai berikut.
a. Sekolah mengajarkan bahasa nasional.
Bahasa nasional ini memungkinkan komunikasi antara suku-suku dan golongan yang berbeda-beda dalam masyarakat.Pengajaran bahasa nasional ini merupakan cara yang paling efektif untuk menjamin integrasi sosial.
b. Sekolah mengajarkan pengalaman-pengalaman yang sama kepada anak melalui keseragaman kurikulum dan buku-buku pelajaran dan buku bacaan di sekolah. Dengan pengalaman yang sama itu akan berkembang sikap dan nilai-nilai yang
sama dalam diri anak.
c. Sekolah mengajarkan kepada anak corak kepribadian nasional(national identity) melalui pelajaran sejarah dan geografi nasional, upacara-upacara bendera, peringatan hari besarnasional, lagu-lagu nasional dan sebagainya. Pengenalan kepribadian nasional itu akan menimbulkan perasaan nasionalis medan perasaan nasionalisme itu akan membangkitkan patriotisme.
7. Kontrol Sosial Pendidikan
Di dalam percakapan sehari-hari, sistem pengendalian social atau social control seringkali diartikan sebagai pengawasan oleh masyarakat terhadap jalannya pemerintahan khususnya pemerintah beserta aparaturnya. Asumsi tersebut memang ada benarnya namun dalam pengertian yang mendasar pengendalian social tidak hanya berhenti pada pengertian itu saja.
 Arti sesungguhnya pengendalian sosial jauh lebih luas, karena pada pengertian tersebut tercakup segala proses, baik yang direncanakan maupun tidak, yang bersifat mendidik, mengajak atau bahkan memaksa warga-warga masyarakat agar mematuhi kaidah-kaidah dan nilai sosial yang berlaku.
Jadi pengendalian sosial dapat dilakukan oleh individu terhadap individu lainnya (misalnya seorang ibu mendidik anak-anaknya agar menyesuaikan diri pada kaidah-kaidahdan nilai-nilai yang berlaku) atau mungkin dilakukan oleh individu terhadap suatu kelompok sosial (umpamanya, seorang dosen di Perguruan Tinggi memimpin beberapa orang mahasiswa dalam kegiatan kuliah kerja lapangan).Seterusnya pengendalian social dapat dilakukan oleh kelompok terhadap kelompok lainnya, atau oleh suatu kelompok terhadap individu. Itu semua merupakan proses pengendalian sosial yang dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari, meskipun seringkali manusia tidak menyadari.
Dengan demikian secara mendasar pengendalian sosial bertujuan untuk mencapai keserasian antara stabilitas dengan perubahan perubahan dalam masyarakat atau suatu sistem pengendalian bertujuan untuk mencapai keadaan damai melalui keserasian antara kepastian dengan keadilan. Menurut Soekanto (1990) sifat pengendalian sosial bias bersifat preventif atau represif. Preventif merupakan suatu usaha pencegahan terhadap munculnya gangguan-gangguan padake serasian antara kepastian dengan keadilan.\
 Usaha-usaha preventif dijalankan melalui proses sosialisasi, pendidikan formal dan informal. Dari penegasan tersebut bisa dikatakan bahwa aktivitas pendidikan baik itu di sekolah maupun di luar sekolah merupakan salah satu alat pengendalian sosial yang telah melembaga baik itu pada masyarakat tradisional maupun yang sudah modern. Sehingga dalam hal ini pengertian pendidikan merupakan proses pengendalian secara sadar di mana perubahan-perubahan tingkah laku dihasilkan dari di dalam diri orang itu melalui pergulatan sosialnya.
Dari pandangan ini pendidikan adalah suatu proses yang dimulai pada waktu lahir dan berlangsung sepanjang hidup. Pengertian pengendalian secara sadar ini berarti adanya tingkat-tingkat kesadaran dari tujuan yang hendakdi dapat.Sementara itu, sebagaimana uraian penjelasan pada halaman halaman terdahulu bahwa di era modern ini lembaga pendidikan juga mengalami proses transformasi baik itu pola kegiatan, tatanilai, bentuk dan organisasi perannya di masyarakat. Secara spesifik telah memunculkan lembaga sekolah sebagai manifestasi wujud orientasinya. Sehingga pada segi sosialnya sekolah memegang peranan penting dalam sosialisasi anak-anak. Sebagai salah satu upaya pengendalian sosial ada empat cara yang dapat
digunakan sekolah yakni :
a. Transmisi kebudayaan, termasuk norma-norma, nilai-nilai daninformasi melalui pengajaran secara langsung, misalnya tentang falsafah negara, sifat-sifat warga negara yang baik,struktur pemerintahan, sejarah bangsa dan sebagainya.
b. Mengadakan kumpulan-kumpulan sosial seperti perkumpulan sekolah, Pramuka, kelompok olah raga, dan sebagainya yangdapat memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mempelajari dan mempraktikkan berbagai keterampilan sosial.
c. Memperkenalkan anak dengan tokoh-tokoh yang dapat dijadikan anak sebagai figur tauladannya. Dalam hal ini guru-guru dan pemimpin sekolah memegang peranan yang penting.[16]
d. Menggunakan tindakan positif dan negatif untuk mengharuskan murid mengikuti tata perilaku yang layak dalam bimbingan sosial. Yang termasuk dalam tindakan positif ialah pujian, hadiah dan sebagainya sedangkan cara yang negative berupa hukuman, celaan dan sebagainya.[17]
C. Perubahan Sosial dan Pendidikan
Telah banyak dibicarakan oleh publik bahwa masyarakat kitasaat ini tidak pernah lepas dari gejala perubahan. Namun karena gejala tersebut memiliki intensitas yang begitu kuat maka banyak pihak yang mengkhawatirkan ketangguhan “daya tangkal” nilai-nilai masyarakat yang telah mapan menjadi goyah lalu perlahan lahan akan mengalami pemudaran.[18] Perubahan dalam masyarakat memang telah ada sejak jaman dulu.Namun dewasa ini perubahan-perubahan tersebut berjalan dengan sangat cepat. Hal ini membingungkan manusia yang menghadapinya. Perubahan-perubahan mana sering berjalan secara konstan dan terikat dengan waktu dan tempat. Akan tetapi karena sifatnya berantai, maka perubahan terlihat berlangsung terus, meskipun diselingi keadaan di mana masyarakat yang mengalami perubahan.Telah menjadi hukum alam bahwa masyarakat memilikiperbedaan dalam adopsi setiap perubahan ataupun inovasi baru.
Ada masyarakat yang sangat cepat mengadopsi suatu perubahan,ada yang lambat bahkan ada yang sangat skeptik, di samping yang terjadi pada kebanyakan anggota masyarakat umumnya. Halini terjadi, karena anggota masyarakat memiliki perbedaan kesiapan untuk menerima perubahan itu, sebagai akibat dari adanya variasi pengetahuan, cara berpikir, sikap, variasi personalitas, pengalaman, selain kesesuaiannya antara nilai yang ia miliki dengan nilai baru yang ditawarkan. Selain karakteristik yang dimiliki oleh seseorang atau suatu masyarakat, faktor referensi atau panutan juga berperanan penting dalam adopsi perubahan itu. Unsur-unsur yang dapat dijadikan referensi oleh seseorang atau masyarakat terhadap proses adopsi perubahan itu di antaranya adalah, (1) orangtua (2) pemuka masyarakat baik formal maupun non-formal, (3) teman dekat, (4) figur idola, dan (5) orang yang paling berpengaruh terhadap diri seseorang.
Unsur- unsur no. 1, 2, dan 3, dapat ditunjuk dengan jelas dalam masyarakat.
Akan tetapi unsur figur idola dan unsur orang yang paling berpengaruh terhadap diri seseorang sangat subjektif. Figur-fiiguritu dapat berwujud bintang film, tokoh masyarakat, sifat heroisme,atau yang lain, yang pada dasarnya dapat berbentuk karakteristik atau aktualisasi dari figur itu yang dinilai sesuai dengan nilai yang dimilikinya, karena baik pola maupun kecepatan seseorang atau suatu masyarakat menerima suatu perubahan pada dasarnya adalah berbeda. Perbedaan ini yang dapat menghasilkan kesenjangan tata nilai di dalam masyarakat, lebih-lebih lagi dalam situasi di mana kompleksitas perubahan itu semakin meluas dan perubahan itu terjadi sangat cepat. Sementara kalau kita sadari perubahan budaya manusia melekat dengan perubahan alam dan jaman. Pada era teknologi suatu masyarakat akan ketinggalan apabila masyarakat itu tidak menerapkan teknologi dalam tatanan hidup mereka. Bahkan teknologi telah terbukti membawa tingkat efisiensi dan kemakmuran masyarakat, karena sifat dari teknologi itu yang pada dasarnya memburu perolehan nilai tambah perubahan budaya itupada dasarnya adalah untuk adaptasi terhadap perubahan alam dan jaman agar manusia tetap mampu mempertahankan eksistensi hidup mereka.[19]
Meskipun kekayaan sumber daya alam bukan faktor penentu terhadap kemajuan suatu masyarakat dibandingkan dengan kekayaan sumber daya manusia tetapi semakin berkurangnya daya dukung potensi sumber daya alam dibanding dengan tuntutan kebutuhan manusia yang jumlahnya semakin besar tetap akan berdampak terhadap terjadinya perubahan pola hidup manusia. Apabila produk dan jasa yang menjadi ukuran kekuatan suatu masyarakat potensial bagi masyarakat tertentu,maka mereka itu yang akan mampu menguasai pasar, yang akhirnya merekalah yang akan mampu mempertahankan eksistensi hidup mereka. Akhirnya penguasaan teknologi yang akan menghasilkan unggulan suatu bangsa.
Berdasarkan tinjauan di atas, bahwa untuk mempertahankan eksistensi hidup masyarakat tidak dapat terhindar dari penguasaan teknologi, maka unsur kreativitas, unsur kemandirian dalam kebersamaan, unsur produktivitas, menjadi faktor yang sangat penting untuk menaggapi budaya hidup teknologis itu. Berarti pendidikan yang menghasilkan manusia-manusia kreatif menjadi tuntutan dalam pola pendidikan umum saat ini banyaknya media yang dapat berperan sebagai sumber informasi pendidikan bagi generasi bangsa saat ini, maka konsep pendidikan perlu mengalami
pergeseran, pendidikan bukan lagi sebagai usaha yang disengaja lagi akan tetapi menjadi kondisi apapun yang dampaknya dapat menyebabkan terjadinya perubahan nilai-nilai manusia.
Kondisi dalam kehidupan keluarga, kondisi yang terjadi dalam masyarakat luas sebagai panggung pentas budaya bangsa kondisi yang ditampilkan oleh berbagai media baik cetak maupun elektronika, kondisi yang terjadi di sekolah kesemuanya secara bersama-sama mewujudkan terjadinya proses pendidikan bagi generasi bangsa kita.[20]
 Baik dipandang dari dimensi tuntutan kualitas manusia masa kini dan masa datang maupun dari kondisi pendidikan yang semakin kompleks dan multi dimensional itu, maka pendidikan kita telah saatnya lebih banyak memberi kesempatan anak-anak kita mengaktualisasikan diri dalam kondisi yang terkontrol baik dirumah maupun di sekolah untuk mengimbangi kondisi yang tidak terkontrol dalam kehidupan di masyarakat luas yang justru tarik menarik pengaruhnya terhadap proses pendidikan formal semakin besar. Peran pendidikan orang tua dan pendidikan
sekolah dituntut semakin besar, apabila kita ingin generasi bangsa kita tidak mengalami pemudaran nilai-nilai budaya bangsa kita yang akan menjalar kepada pemudaran rasa kebangsaan kita,dengan lebih besar memberikan kesempatan kepada merekauntuk mengaktualisasikan diri mereka masing-masing.
D. Pendidikan dan Pembaharuan Masyarakat
Ada para pendidik yang menaruh kepercayaan yang besar sekali akan kekuasaan pendidikan dalam membentuk masyarakat baru. Oleh karena itu setiap anak diharapkan memasuki sekolah dan dapat diberikan ide-ide baru tentang masyarakat yang lebih indah dari pada yang sudah-sudah.[21]
Sekolah dapat merekonstruksiatau mengubah dan membentuk kembali masyarakat baru.Apakah harapan itu akan terpenuhi? Dapat dipertanyakan.Pihak yang berkuasa di suatu negara pada umumnya menggunakan sekolah untuk mempertahankan dasar-dasar masyarakat yang ada. Perubahan yang asasi tak akan terjadi tanpa persetujuan pihak yang berkuasa dan masyarakat. Sekolah tak dapat melepaskan diri dari masyarakat tempat ia berada dan dari kontrol pihak yang berkuasa.[22]
Sekolah hanyadapat mengikuti perkembangan dan perubahan masyarakat dantak mungkin mempelopori atau mendahuluinya. Jadi tidak ada harapan sekolah dapat membangun masyarakat baru lepas dariproses perubahan sosial yang berlangsung dalam masyarakat itu. Belajar dari pengalaman berbagai dunia, tentu saja sekolahdapat digunakan oleh yang berkuasa untuk mengadakan perubahan-perubahan radikal yang diinginkan oleh pihak yang berkuasa itu, seperti Hitler di Jerman, Partai Komunis di Uni Soviet, Jepang di daerah jajahannya dan sebagainya. Sistem pendidikan adalah alat yang ampuh untuk mengindoktrinasi generasi mudaagar menciptakan suatu masyarakat menurut keinginan merekayang mengontrolnya. Perubahan kekuasaan dalam suatu negara, misalnya oleh golongan yang menganut ideologi lain akan memanfaatkan sekolah sebagai alat untuk membangun masyarakat
baru menurut ideologi mereka.
Dalam dunia yang dinamis ini tanpa terkecuali setiap masyarakat akan mengalami perubahan menuju pembaharuan. Tidak turut berubah dan mengikuti pertukaran jaman akan membahayakan








BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Pendidikan berbasis mayarakat adalah bahwa masyarakat yang menentukan kebijakan serta ikut berpartisipasi didalam mananggung beban pendidikan, bersam seluruh masyarakat setempat, tenteng pendidikan yang bernmiutu bagi anak-anak mereka.dalam pengertian ini masyarakat tidak semestinya menyerahkan seliruh pendidikan anak-anak mereka kepada sekolah semata-mata, tetapi ikut memikirkan serta bertanggung jawab bersama kalangan pendidikan akan berhasilnya pendidikan anak-anak mereka.
Dengan demikian diharapkan agar terciptanya huibungnan yang harmonis pendidikan dirumah dan disekolah serta pendidikan diluar sekolah. Ditekankann dalm amanat bahwa segenap lapisan masyarakat,bangsa dan Negara Indonesia memiliki kewajiban untuk berpartisipasi dalam semua aspek pengelolaaan pendidikan disemua jenis dan jenjang karena pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, keluarga dan masyarakat.
Ada para pendidik yang menaruh kepercayaan yang besar sekali akan kekuasaan pendidikan dalam membentuk masyarakat baru. Oleh karena itu setiap anak diharapkan memasuki sekolah dan dapat diberikan ide-ide baru tentang masyarakat yang lebih indah dari pada yang sudah-sudah.
Sekolah dapat merekonstruksiatau mengubah dan membentuk kembali masyarakat baru. Pihak yang berkuasa di suatu negara pada umumnya menggunakan sekolah untuk mempertahankan dasar-dasar masyarakat yang ada. Perubahan yang asasi tak akan terjadi tanpa persetujuan pihak yang berkuasa dan masyarakat. Sekolah tak dapat melepaskan diri dari masyarakat tempat ia berada dan dari kontrol pihak yang berkuasa

B. Saran
Berdasarkan pengalaman penulis yang didapat dalam proses awal sampai    akhir penulisan makalah ini, maka penulis menyarankan hal-hal sebagai berikut:
  1. Penulis menyadari bahwa kajian mengenai pembahasan pengaruh masyarakat terhadap pendidikan masih sangat kurang. Oleh karena itu, perlu adanya perhatian khusus dalam upaya meningkatkan pemahaman mengenai kajian tersebut.
  2. Kendala-kendala yang sangat mengganggu penulisan adalah masih kurangnya Referensi yang menunjukkan kajian tentang pengaryh masyarakat terhadap pendidikan baik yang bersifat teoritis maupun yang bersifat teknis. Oleh karena itu, diharapkan kiranya muncul tulisan-tulisan selanjutnya agar tujuan penulisan dapat tercapai











DAFTAR PUSTAKA

            Ahmadi, Abu, Psikologi Umum, Cet. 3; Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2003
            Arcaro, Jerome S, pendidikan berbasis mutu, pustaka pelajar,yokyakarta,2007
            Douglas. Teori Sosiologi Modern. Edisi 6. Jakarta: Kencana, 2008
            Heri, Agus Brutosusilo. Masyarakat  dan Kebebasan. Jakarta : Rajawali. 1986
            Nehnevajsa, Jiri. Sosiologi Modernisasi. Yogyakarta: Tiara Wacana, 1993
            Shadily, Hassan, Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia, Cet. 10; Jakarta: PT                      Bina Aksara, 1984
Slameto, Belajar dan factor-faktor yang mempenagruhinya,Rineka cipta,Jakarta, cetakan empat,oktober 2003
            Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu pengantar, Cet.30; Jakarta: PT Raja    Grafindo Persada, 2000
            Subaidin, Pendidikan Berbasis Masyarakat,pustaka pelajar,yokyakarta, 2007
            Sunarto, Kamanto. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Fakultas Ekonomi                Universitas Indonesia, 1993
            Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan baru. Bandung:           Remaja Rosdakarya, 2004
            Vysen. A. Individu dan Masyarakat. Bandung: Sumur Bandung. 1967.
            Wahyu, Ramdani, Ilmu Sosial Dasar, Cet. 1; Bandung: CV Pustaka Setia,                          2007
            Widagdho, Djoko, Ilmu Budaya Dasar, Cet. 7; Jakarta: PT Bumi Aksara,                           2001
            Winarno dan Herimanto ,Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Cet. 4; Jakarta:                            Bumi Aksara, 2010
            Yusuf, Syamsu, Psikologi perkembangan Anak dan Remaja, Cet. 6; Bandung:                   PT Remaja Rosdakarya, 2005






[1]Soerjono Soekanto. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Pustaka, 2000. h. 65

[2]Subaidin, Pendidikan Berbasis Masyarakat,(Yokyakarta: Pustaka pelajar, 2007),h.47

                [3] Ramdani wahyu,  Ilmu Sosial Dasar, (Cet. 1; Bandung: CV Pustaka Setia, 2007), h. 69
                [4] Abu Ahmadi, Psikologi Umum, (Cet. 3; Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2003), h. 195
                [5] Syamsu Yusuf, Psikologi perkembangan Anak dan Remaja, (Cet. 6; bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005), h. 17
[6]Slameto,Belajar dan factor-faktor yang mempenagruhinya,(Cet. IV, Jakarta: Rineka cipta, 2003) Hal. 87

                [7] Douglas, Teori Sosiologi Modern, (Edisi 6, Jakarta: Kencana, 2008), h. 364
                [8] Muhibbin Syah. Psikologi Pendidikan Dengan  Pendekatan Baru. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004). h. 24
                [9] Ibid., 37
[10]Jerome  Arcaro,  Pendidikan Berbasis Mutu, (Cet.V, Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.)
h. 127
[11] Op.cit., h. 49
[12] Hassan Shadily, Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia, (Cet. 10; Jakarta: PT Bina Aksara, 1984), h. 51

                [13] Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi (Edisi Revisi, Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1993), h. 54
                [14] Ibid., 49
                [15] Herimanto dan Winarno, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, (Ed. 1, Cet. 4;Jakarta: Bumi Aksara, 2010), h. 41
                [16] A. Vysen, Individu dan Masyarakat. (Cet. 1; Bandung: Sumur Bandung. 1967), h. 67
                [17] Ibid.,69
            [18] Agus Brutosusilo Heri,  Masyarakat  dan Kebebasan.(Cet. 2;  Jakarta : Rajawali. 1986), h. 76

                [19]Ibid., 78
                [20] Djoko Widagdho,dkk,  Ilmu Budaya Dasar, (Cet;VII , Jakarta; Bumi Aksara, 2001 ),  h.41
                [21]Ibid.,45
                [22] Jiri Nehnavajsa,  Sosiologi Modernisasi, (Jogjakarta: PT Tiara Wacana Yogya, 1993), h. 189

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar